Lainnya

Di Bawah Diktator Layar: Manusia yang Terus Men-scroll

Dunia terasa penuh, tetapi makna justru semakin tipis.

Manusia terpenjara dalam “kecanduan gadget” yang mendistorsi cara pandangannya akan realitas dunia utuh.

Hal ini perlahan-lahan membuat manusia hidup dalam ilusi yang membuatnya lupa akan eksistensinya yang bermakna di dunia, dan mengubahnya menjadi cara hidupnya sendiri.

Manusia yang terus bereaksi, bukan merenung kemajuan teknologi yang sering dikatakan juga “zaman layar dan gawai,” manusia modern dibiasakan untuk cepat bereaksi, bukan sebaliknya “berpikir kritis dan mendalam.”

Dalam rutinitas harian, kita dilatih untuk segera menekan, “suka, marah, setuju, bagikan.”

Hampir tidak ada jeda untuk berpikir dan bertanya lebih jauh, yang penting cepat merespons, bukan memahami.

Duduk persoalannya bukan karena manusia kehilangan “daya rasionalitasnya,” tetapi karena akal itu jarang diberi ruang untuk bekerja secara kritis dan mendalam.

Pikiran terus dikejar oleh informasi baru sebelum sempat “mencerna yang lama.”

Akibatnya, hidup batin menjadi tumpul dan dangkal, banyak bereaksi, tetapi jarang merenung.

Scroll yang dibahas dalam konteks ini, mengubah cara pandang manusia dalam membangun hubungan dengan keheningan.

Diam kini terasa aneh, saat “layar mati” muncul rasa gelisah. Fenomena sosial menunjukan, ada begitu banyak orang sulit duduk tenang tanpa membuka ponsel.

Bukan karena tidak ada yang dipikirkan, namun karena “tak terbiasa sendirian dengan pikirannya sendiri.”

Contoh konkret, ketika sebuah keluarga sedang makan malam bersama, bapa, mama, bahkan anak-anak cenderung lebih fokus pada “layar” mereka masing-masing, ketimbang berbagi kisah atau sharing satu dengan yang lain.

Scroll menjadi pelarian dari sunyi, tetapi pelarian itu ada harganya.

Semakin sering kita lari dari keheningan, semakin kita kehilangan “kedalaman sebagai manusia.”

Membaca “Zaman Layar” bersama Jean Baudrillard Filsuf Prancis, Jean Baudrillard hadir untuk memberi suatu stabilitas kontrol dan mengambil jarak dari “diktator layar yang memenjarakan.”

Pertama, Baudrillard tidak mengajak kita kembali ke “masa sebelum layar,” tetapi mengingatkan bahwa manusia harus sadar ketika ia sedang berada dalam apa yang disebut oleh filsuf ini sebagai “simulasi.”

Kesadaran ini adalah langkah awal, menyadari bahwa yang kita lihat di layar bukan “dunia,” melainkan versi dunia yang telah “disaring, dipilih dan direkayasa untuk menarik perhatian.”

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara