Pergaulan sebagai kerangka bagi tindakan politik barangkali akan tampak sangat mudah untuk dilakoni oleh siapapun. Lebih lagi, model tindakan politik yang seperti ini tampak sudah menjadi truism di kalangan mereka yang terlibat dalam politik. Sabdanya tetap dan pasti, politik itu bergaul.
Tapi kenyataan bahwa tidak semua orang mampu melakoni pergaulan politiknya dalam cara yang sama dengan, sebagai contoh bahasan kita, seorang Rocky Wowor, menunjukkan bahwa ada yang seharusnya berbeda dalam cara kita memaknai model itu. Dan itu menunjukkan apa yang khas dari Rocky.
Pertama, dia tidak bergaul dengan pretensi akan hasil sebagai apa yang akan dia peroleh jika dia bergaul. Dalam bahasa yang lebih puitis, politik baginya adalah malam dengan kesunyiannya yang mencekam. Di cekam kesunyian itulah dia ingin bergaul. Tujuannya jadi jelas, mencari sahabat.
Persoalan bahwa para sahabat yang dia peroleh kemudian memberinya keuntungan politik atau, katakanlah, peningkatan karir politik, hanyalah efek yang (tentu saja) bersifat positif dari pergaulan yang dia lakoni. Tapi, sekali lagi, itu bukan peristiwa sebagai tujuan tapi lebih sebagai konsekuensi logis.
Akan terlalu naïf jika kita kemudian memikirkan semacam ketulusan pergaulan dalam kerangka tindakan politiknya. Bahkan Rocky sendiri sadar bahwa selalu ada kepentingan di balik hubungan-hubungan itu dan toh dia juga tidak merasa terganggu dengan silang sengkarut berbagai kepentingan itu. lebih dari itu, dia bahkan mempelajarinya.
Tapi seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Rocky adalah pertapa dalam pergaulan politik. Dan dia memainkan peran itu dalam cara yang terbilang luar biasa. Model asketis kepertapaan Rocky adalah kesabaran. Sebentuk pola main di dunia politik generasi baru politisi muda yang tengah tumbuh hari ini.
Dalam partai politik yang menaungi Rocky sendiri, ada beberapa nama di tingkat lokal Sulawesi Utara yang juga telah melakoni model yang sama. Beberapa nama yang kini sedang sukses boleh disebutkan di sini, seperti Andre Angouw dan Joune Ganda. Dengan pendekatan masing-masing, bersama Rocky, kedua nama ini pula melakoni karir politik mereka dengan kesabaran.
Yang unik pada Rocky, kesabaran itu bersifat asketis. Seolah datang dari ruang yang paling eksistensial dalam dirinya. Pada peristiwa ketika dia luput dari jabatan sebagai ketua dewan, misalnya, Rocky menampilkan dirinya dalam cara yang sepenuhnya dilingkupi oleh terang kesabaran.
Seiris kisah pribadi…

Saya bersama Rocky Wowor ketika politisi muda ini memulai karirnya sebagai anggota dewan rakyat Sulawesi Utara. Dia masih gagap tapi telah sepenuhnya tenggelam dalam lingkungannya itu. Dan sudah sejak itulah saya bisa melihat bagaimana dia belajar memahami politik.
Tahun pertama perjalanannya tentu saja tidak begitu mudah, untuk tidak dikatakan begitu sulit. Dan memang pada saat itulah Rocky mulai menemukan politik sebagai malam dengan kesunyiannya yang mencekam. Maka diapun menyiapkan obor untuk menerangi malam dan mencari sahabat untuk membebaskannya dari cekam kesunyian itu.
Hasilnya adalah tiga tahun pertama karirnya sebagai politisi yang diisi pergaulan dengan puncak-puncak peristiwa yang memberinya peluang untuk terus bergerak menaiki tangga karirnya. Pada saat itulah, di sebuah kafe, saya menemukan Rocky telah seutuhnya menjadi seorang politisi.
Beberapa hari yang lalu kami kembali bertemu dan berbincang dengan kaku. Tapi Rocky masih tetap Rocky yang mengenali wajah dan nama dengan takzim. Yang tahu bahwa seribu sahabat terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak. Politisi muda dengan bentang jalan yang masih panjang di depannya.
Maka saat meninggalkan ruang kantornya di gedung DPRD Sulut, saya begitu sadar bahwa Rocky telah berhasil menaiki tangga karirnya dan tampaknya dia akan terus menanjak naik. Persoalannya bagi saya, apakah kelak ketinggiannya tidak akan membuatnya gamang untuk memandang ke bawah?
Manado, Januari 2021
