
Oleh: Amato Assegaf
Bagi Rocky Wowor politik adalah cara mengulang pengetahuan dari apa yang sudah dia ketahui dalam bentuknya yang paling sederhana.
Seperti, misalnya, mempelajari aturan dan melafalkannya sebagai sebentuk kebijakan.
Dalam pola seperti ini, apa yang boleh kita andaikan sebagai kearifan dalam berpolitik memperoleh wujudnya lewat berbagai ucapan dan tindakan yang sudah disepakati sebagai yang paling mungkin untuk dianggap bijaksana.
Keunikan dari model pemahaman atas politik yang seperti ini tidak terletak pada keunggulannya yang telah terbukti mampu membawa Rocky melaju dalam karir politiknya tapi pada kesederhanaan kerangka dan cara kerjanya.
Kerangkanya adalah politik sebagai pergaulan, sedangkan cara kerjanya adalah upaya yang terus menerus untuk memahami orang, tindakan dan situasi dalam pergaulan itu.
Ini tentu sangat berbeda dengan kerumitan yang kita pahami sebagai sifat politik. Tersedianya berbagai kemungkinan pilihan, misalnya, membuat politik jadi sulit untuk ditebak.
Tapi dalam kerangka dan cara kerja yang dipahami Rocky, berbagai kemungkinan itu memang tidak untuk ditebak tapi untuk dipelajari. Hasil akhirnya akan tetap sama: sebuah atau lebih keputusan, apapun itu.
Karenanya tahun-tahun dalam perjalanan karirnya sebagai politisi adalah tahun-tahun pergaulan yang dipenuhi dengan pelajaran. Tak heran hari ini, sekira enam tahun sejak dia pertama kali menjadi anggota dewan Sulut, Rocky telah tumbuh menjadi seorang politisi dalam caranya sendiri.
Tapi itu bukan jaminan bahwa dia telah matang. Rocky sendiri tahu perjalanannya masih panjang dan masih ada banyak hal yang harus dia pelajari dalam politik. Lebih dari itu, politik juga bukan wilayah yang sesungguhnya eksistensial baginya. Kecuali sebagai tugas yang harus dia emban, Rocky sadar untuk tidak memenuhi dirinya dengan semata politik.
Adalah kehidupan keluarga dan bentuk-bentuk relasi dalam ruang pribadinya yang sesungguhnya menjadi dasar pembentuk eksistensinya.
Dan meski tidak terpisah secara diametral, dia sadar untuk membedakan antara relasi dalam ruang pribadinya itu dengan urusan politik dalam ruang publik.
Maka dia berkembang dalam satu dunia yang bersifat dialektis antara dunia ruang privat yang lebih bersifat eksistensial dengan dunia ruang publik yang menjadi sarana baginya dalam mengekspresikan diri. Kaitan dan perbenturan kreatif antara keduanya terjaga dalam kerangka yang sama, pergaulan.
Politik sebagai pergaulan…
Rocky Wowor menghafal wajah dan nama dengan sikap takzim seorang pertapa. Dan itu berlaku baik bagi wajah dengan nama besar maupun wajah dan nama orang-orang biasa yang ada di dalam lingkungannya. Pergaulan, sebagai kerangka bagi aktivitas politiknya, dimulai dengan rasa hormat atas wajah dan nama.
Selebihnya adalah gerak tak putus pergaulan yang berlangsung dalam dinamika hubungan-dalam arti positif maupun negatif-yang membentuk peristiwa. Dan, seperti juga dalam pergaulan yang menjadi proses pembentuk peristiwa, pada peristiwa itu pula Rocky memainkan peranannya sebagai seorang politisi.
Uniknya, dia jelas tidak melihat peristiwa sebagai tujuan. Dan meski pergaulan selalu mengandaikan peristiwa sebagai semacam tujuan, Rocky sendiri melihat peristiwa lebih sebagai efek dinamis dari pergaulan yang dia lakoni. Dan itu, sadar atau tidak, telah membuat dia mampu memainkan peran politiknya secara lebih sinambung dan menyeluruh.
Untuk memberi contoh yang lebih empiris, karirnya dalam partai terkait jabatannya sebagai wakil rakyat mengalami peningkatan lewat dinamika pergaulan yang dia lakoni dengan tekun. Dan manakala semua itu menghasilkan peristiwa-peristiwa yang membawa peningkatan bagi karir politiknya, Rocky tidak kemudian terlupa pada pergaulan itu sendiri.
