Berita Utama

Dari Angka ke Nyata: Bagaimana Joune Ganda Mengubah Arah Minahasa Utara

Dari Angka ke Nyata: Bagaimana Joune Ganda Mengubah Arah Minahasa Utara
Bupati Joune Ganda. Foto: Ist


Penulis: Alfrits Semen | Minahasa Utara

Pagi di Minahasa Utara tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.

Di balik geliat aktivitas masyarakat yang kian dinamis, tersimpan cerita tentang sebuah daerah yang terus bergerak maju.

Perubahan itu bukan terjadi begitu saja.

Ia lahir dari rangkaian kebijakan, keputusan, dan konsistensi kepemimpinan.

Di tangan Bupati Joune Ganda bersama Wakil Bupati Kevin Lotulung, Minahasa Utara seperti menemukan ritmenya.

Ritme pembangunan yang terukur, tetapi terasa.

Ringkasan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (RLPPD) 2025 memang penuh angka.

Namun di balik angka-angka itu, ada cerita yang lebih besar, tentang perubahan yang benar-benar terjadi.

Indeks Pembangunan Manusia naik dari 77,05 menjadi 77,76.

Angka kemiskinan yang sebelumnya 6,95 persen kini turun ke 6,05 persen.

Pengangguran ikut menyusut dari 6,73 persen menjadi 6,18 persen.

Sementara itu, ekonomi daerah tumbuh 5,5 persen, dengan PDRB per kapita yang melonjak dari Rp87,29 juta menjadi Rp94,93 juta.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya statistik.

Namun bagi masyarakat, ini adalah soal kesempatan kerja yang lebih terbuka, daya beli yang meningkat, dan kehidupan yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.

Di sektor kesehatan, perubahan itu terasa lebih dekat lagi.

Layanan yang dulu tidak selalu menjangkau semua, kini hadir hampir tanpa celah.

Pelayanan ibu hamil, persalinan, bayi baru lahir, hingga balita berjalan sesuai standar.

Penyakit seperti hipertensi, diabetes, TBC, hingga HIV ditangani secara sistematis.

Bahkan kelompok yang kerap terpinggirkan, para lansia, kini merasakan layanan penuh. Dari sebelumnya hanya 50,15 persen, kini mencapai 100 persen.

Pada saat yang sama, prevalensi stunting ditekan hingga 1,29 persen, sebuah capaian yang menunjukkan bahwa intervensi pemerintah tidak hanya dirancang, tetapi benar-benar bekerja.

Di ruang-ruang kelas, perubahan juga mulai terlihat.

Sekolah-sekolah yang dulu menghadapi keterbatasan perlahan dibenahi.

Toilet yang sebelumnya tidak layak kini mulai tersedia dengan kondisi baik hingga 55,43 persen.

Ruang kelas layak mencapai 31,18 persen.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya hilang.

Partisipasi pendidikan usia dini dan sekolah masih mengalami fluktuasi, menjadi pekerjaan rumah yang terus dihadapi.

Namun pembangunan memang tidak pernah berjalan tanpa tantangan.

Di sektor infrastruktur, di satu sisi ada capaian membanggakan, kepatuhan terhadap persetujuan bangunan gedung mencapai 100 persen, begitu pula dengan peningkatan tenaga teknis bersertifikat yang melonjak dari 21,66 persen menjadi 100 persen.

Tetapi di sisi lain, kemantapan jalan yang turun dari 71,59 persen menjadi 47,99 persen, serta akses air minum yang menurun dari 43,62 persen menjadi 10,79 persen, menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar masih terus berlangsung.

Di sinilah kepemimpinan diuji, bukan hanya pada keberhasilan, tetapi juga pada kemampuan mengelola tantangan.

Di bidang sosial, wajah pemerintah hadir lebih nyata.

Penyandang disabilitas, anak terlantar, lansia, hingga gelandangan dan pengemis semuanya mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar hingga 100 persen.

Dalam situasi bencana, respons juga semakin sigap, dengan pemenuhan kebutuhan korban mencapai 100 persen.

Bahkan layanan yang dulu terbatas, seperti evakuasi kebakaran, kini melonjak drastis dari 8,01 persen menjadi 100 persen.

Sebuah perubahan yang tidak hanya terlihat di atas kertas, tetapi juga dirasakan dalam rasa aman masyarakat.

Di balik semua itu, ada fondasi yang sering luput dari perhatian yakni tata kelola keuangan.

Minahasa Utara kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dengan pendapatan daerah mencapai Rp1,053 triliun atau 99,71 persen dari target, dan belanja terealisasi Rp1,007 triliun atau 91,14 persen.

Bahkan Pendapatan Asli Daerah melampaui target hingga 105,01 persen.

Angka-angka ini menunjukkan satu hal penting bahwa pembangunan tidak hanya ambisius, tetapi juga dikelola dengan disiplin.

Namun mungkin yang paling mencerminkan arah kepemimpinan Joune Ganda adalah keberanian untuk berinovasi.

Lebih dari 130 inovasi lahir dari berbagai sektor, mulai dari digitalisasi layanan publik, sistem pengawasan berbasis teknologi, hingga program pengentasan kemiskinan ekstrem.

Birokrasi berubah menjadi lebih cepat, adaptif, dan responsif.

Hasilnya tidak hanya dirasakan di dalam daerah, tetapi juga diakui secara luas.

Penghargaan demi penghargaan datang silih berganti.

Innovative Government Award, Universal Health Coverage, Kabupaten Layak Anak, hingga berbagai prestasi di sektor pendidikan, ekonomi, dan pelayanan publik.

Namun pada akhirnya, capaian ini bukan sekadar tentang penghargaan.

Ia adalah tentang arah.

Tentang bagaimana sebuah daerah memilih untuk tidak berjalan di tempat.

Tentang bagaimana kebijakan diterjemahkan menjadi tindakan.

Dan tentang bagaimana kepemimpinan bekerja bukan sekadar memimpin, tetapi menghasilkan.

Di Minahasa Utara, perubahan itu kini bukan lagi wacana.

Ia hadir dalam angka, terasa dalam pelayanan, dan hidup dalam keseharian masyarakat.

Dan di balik semua itu, ada satu benang merah yang sulit diabaikan: kepemimpinan yang tidak hanya menjanjikan, tetapi membuktikan.


BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara