MANADO – Kelangkaan minyak tanah semakin terasa, bukan saja susah untuk mendapatkannya malah sekarang dampaknya telah merengsek pada naiknya harga-harga penjualan produk makanan (jajanan). Seperti, harga tahu goreng yang ada di bilangan Stadion Klabat.
Hasil Investigasi beritamanado, gorengan di bilangan tersebut dulunya hanya Rp1000 kini naik menjadi Rp1500. “Saat ini harga tahu isi sudah Rp1500/biji,” ujar penjual tahu goreng.
Kenaikan harga ini menurut penuturan para penjual dikarenakan susahnya mencari minyak tanah, kalaupun dapat harganya pasti mahal. Sementara itu, upaya penggunaan elpiji melalui program pemerintah nasional konversi minyak tanah, masih menyisakan ketakutan bagi masyarakat.
“Kita so beli itu elpiji 12 kg, mar sampe sekarang kita belum pake,” ujar Felma Sondakh, pemilik kantin kampus “Nasteng” yang masih bertahan dengan harga lama.
Diakuinya bahwa jika benar penarikan pasokan minyak tanah (MT) akan dilakukan, maka terpaksa elpiji tersebut segera digunakan. ”Semoga depe alat aman dan torang nda mo jadi apa-apa,” harapnya.
Kelangkaan minyak tanah saat ini memang menyisakan banyak tanda tanya, karena bagaimanapun juga masyarakat pada saat ini ditengah kesibukan menyambut Natal kurang berani menggunakan elpiji karena alasan keamanan.
Ledakan-ledakan yang pernah terjadi masih membawa trauma psikologis bagi calon pengguna terutama bagi masyarakat yang belum pernah menggunakan gas elpiji.
Disaat perayaan Natal yang semakin mendekat pendistribusian minyak tanah secara merata harus benar-benar dilakukan termasuk sosialisasi penggunaan gas elpiji harus sungguh-sungguh diberikan sehingga kepercayaan masyarakatpun timbul.
Bukan sampai disitu saja, kiranya dampak kelangkaan minyak tanah ini tidak mempengaruhi harga produk makanan dengan cara pemerintah melakukan pengontrolan. (*/cha)
