Manado, BeritaManado.com – PT Pertamina turut peduli dalam menciptakan lingkungan yang sehat di Sulawesi Utara (Sulut).
Hal ini dibuktikan Pertamina dengan mendorong masyarakat Sulut agar menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) berkualitas.
Sandi Saryanto, Sales Branch Manager Rayon III Pertamina Area Sulawesi Utara & Gorontalo dalam Talkshow Energi Baik untuk Lingkungan yang Sehat, Rabu (10/2/2021), memaparkan alasan kenapa masyarakat harus menggunakan BBM berkualitas, yaitu pertama, teknologi yang semakin berkembang.
Dijelaskan Sandi, hanya tinggal 7 negara di dunia yang menggunakan Grasolin Research Octane Number (RON) 88, diantaranya Bangladesh, Kolombia, Yunani, Indonesia, Mongolia, Ukraina dan Uzbekistan.
Penggunaan BBM dengan nilai RON rendah sangat berisiko bagi mesin. BBM RON rendah akan menurunkan performa atau unjuk kerja (daya dan efisensi), memburuknya emisi gas buang kendaraan bermotor, membuat mesin mengelitik (knocking), sampai risiko terburuk lainnya.
Alasan kedua yaitu, sesuai Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia no. 20 tahun 2017 mengatur tentang penerapan bahan bakar standar Euro 4 (Minimal RON 91).
Ketiga, BBM berkualitas mengurangi biaya maintenance kendaraan serta lebih irit karena pembakaran yang lebih baik.
“BBM berkualitas membuat lingkungan tetap terjaga keasriannya,” ujar Sandi.
Sementara itu, Junior Officer Communication and Relations Pertamina Regional Sulawesi Muhammad Iqbal Hidayatulloh menambahkan, masyarakat yang beralih menggunakan BBM berkualitas seperti pertalite semakin banyak.
“Banyak masyarakat yang sudah beralih menggunakan pertalite, sudah sekitar 60 persen,” kata Iqbal.
Ia berharap dengan kenaikan konsumsi BBM berkualitas di Sulut dan Gorontalo, masyarakat akan semakin sadar dengan isu lingkungan dan sama-sama menjaga kualitas udara, serta bisa ikut membantu menjaga kualitas kesehatan masyarakat.
Talk show tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sulut Marly Gumalag, Kepala Dinas Kesehatan Sulut Debbie Kalalo, serta Komunitas Otomotif Adi Putra Mokoginta.
Pada kesempatan itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sulut Marly Gumalag menjelaskan bahwa Pemprov Sulut memiliki sejumlah alat pemantauan kualitas udara diantaranya AQMS, yaitu alat untuk mengetahui zat pencemaran udara seperti hidrokarbon, karbondioksida, sulfur, dan lainnya.
Alat berikutnya yaitu Passive Sampler yang disebarkan 4 unit setiap kabupaten/kota se-Sulut.
Ada juga Gent Sampler untuk mendeteksi jika ada logam berat di udara.
“Alatnya hanya satu di kantor DLH Sulut. Sejauh ini, Indeks Standar Pencemar Udara di Sulut di angka 92, melebihi standar nasional. Tentu saja, untuk menghasilkan udara yang baik, harus diimbangi upaya lain seperti penanaman pohon dan lainnya,” ujar Marly.
Kadis Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo MSc PH menjelaskan polusi berdampak buruk kepada manusia apalagi kepada anak-anak.
“Polisi udara memiliki dampak yang sangat fatal bagi anak-anak. Olehnya penting untuk memonitoring kesehatan udara kita,” pesan Kalalo.

