Setelah tahu prestasi dan cintanya masyarakat Sulawesi Utara kepada beliau (yang juga ex Inspektur Jenderal Kemendagri), terus terang saya minder.
Saya takut tidak bisa mengimbangi dan memenuhi harapan masyarakat Sulawesi Utara.
Bahkan publik di daerah Nyiur Melambai ini sempat mencibir saat saya datang di sana. Apalagi menggantikan posisi SHS. Tokoh legendaris.
“Pokoknya Pak Gubernur Sarundajang itu hebat dan tak ada yang bisa menandingi, termasuk Pj Gubernur yang baru datang ini. Mana bisa….,” ujar warga di media lokal.
Alhamdulillah, Puji Tuhan, berkat dukungan dan pendampingan SHS ke saya layaknya “kakak-beradik”,
saya tidak mengecewakan.
Seniorku Gubernur Sarundajang mampu dengan sangat baik mengawal saya dalam menjalankan roda pemerintahan di Sulawesi Utara, hingga sukses, bahkan masyarakat Sulawesi Utara semakin dekat dan akrab dengan saya sebagai Pj Gubernur. Sampai hari ini.
Terhadap posisi istri saya sebagai Ketua PKK Provinsi Sulawesi Utara pun sukses dikawal oleh Ibu Deetje Sarundajang Laoh-Tambuwun.
Terkini, Bu Dee dan istri saya, bersama para aktivis PKK Sulawesi Utara masih sering bersilahturahmi.
Setidaknya sekali dalam dua bulan mereka masih bakudapa.
Kini, seniorku yang membanggakan telah tiada. Dia telah pergi mendahului kita semua.
Mengamati media sosial dalam sepekan, tak terhingga sanjungan, apresiasi dan kebanggaan warga terhadap SHS.
Presiden Filipina, Duterte pun merasa sangat kehilangan seorang sahabat sejati.
Jejak langkah dan sepak terjang SHS bagi Sulawesi Utara yang sangat kita banggakan itu, terukir abadi.
Saya merasakan, di arena balap kuda di Tompaso Kawangkoan sekalipun, amat terasa aroma ketokohan SHS.
Kami pernah kesana, bergembira bersama, bersendagurau ria, dan ketawa lepas, tiada tara.
Selamat jalan Seniorku, Dr Sinyo Harry Sarundayang.
Semoga diberikan tempat yang terbaik, dalam kedamaian dan keabadian di Surga.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan.
Salam Manis Bakudapa (Sambada)
