FPSL bukanlah even stagnan dari tahun ke tahun yang tidak kreatif.
Tidak menjadi acara membosankan yang dikerjakan hanya sekadar habiskan anggaran semata.
Pun tamu yang dihadirkan kelas “Torang Deng Torang”.
Itu itu saja di seputaran daerah. Atau malah sekadar hiburan buat pejabat dan kalangan tertentu saja.
Sementara tujuan festival adalah mampu mensejahterakan masyarakat, menciptakan branding. Awaresness terhadapd destinasi dimana festival berlangsung.
Di Bitung kali ini, FPSL 2023 mampu membuktikan bahwa inilah festival pariwisata sesungguhnya!
Dalam konteks ini saya kira, dinas pariwisata kabupaten kota lainnya di Sulut, maupun pihak swasta yang ingin melaksanakan even bernuansa tourism, harus belajar dari gerakan inovasi dan spirit FPSL ini.
Sebaliknya, FPSL menjadi daya pikat baru.
Menjadi trigger branding pariwisata Sulut yang bisa diandalkan.
Bahwa di Sulut, ada Tomohon Flower Festival yang sudah mendunia, kini ada festival tepi pantai dari kota pelabuhan yang hidup selama 24 jam: Festival Pesona Selat Lembeh!
“Ngoni semua harus tetap semangat. Mari Jo ke Sulut kong pasiar ke Bitung. Ada Festival Pesona Selat Lembeh!” Itu kata Om Kumis yang tak lain adalah Wali Kota Maurits Mantiri.
Beliau live kemarin di tiktok nya.
“Sulawesi Utara akan terus menggenjot pelaksanaan aneka even pariwisata di kabupaten kota. Sebabelalui even, orang akan berbondong bondong datang ke daerah ini. Dan mereka Plesiran. Habiskan uang di sini. Pariwisata kita pun akan maju. Maju mensejahterakan rakyat. Sebab pariwisata itu untuk semua,” kata Wakil Gubernur Steven Kandouw.
(rds)
