Beberapa dari mereka, saya contohkan ada tiga orang.
Yang pertama ada di bagian house keeeping kebersihan toilet dan sarana kedatangan terminal Bandara Sam Ratulangi. Lalu ada pelayan restoran di Cafe D Kampung Manado Town square. Dan pelayan resto di Kampoeng Tenga Fresh mart Paniki Manado.
Sebagai bagian dari tim kepariwisataan provinsi Sulut, saya merasa bangga dan terhormat menyapa langsung dan foto dengan sosok sosok Sulut Hebat ini. Karena dari merekalah terlihat jelas keberhasilan transformasi. Perubahan. SDM Sulut dalam hospitality.
Saya sebut demikian sebab selama ini begitu banyak anggapan miring. Pesimisme bahkan kerap dijadikan guyonan kisah miris. Stigma jelek tentang SDM Sulut yang dikesankan seolah susah melayani tamu/turis. Restoran or hotel di Manado identik dengan wajah merengut (muka Besae’ kerap dijuluki) berhadapan dengan turis atau tamu.
Bahkan kerap didramatisir pesimisme itu dikaitkan upaya Gubernur intens penuh semangat mendatangkan wisatawan dan menjadikan Sulut destinasi wisata internasional.
“Apa iya Sulut bisa jadi destinasi pariwisata dunia? Pelayanannya banyak ‘muka Besae’?” Kerap ini jadi sindiran!
Namun begitu, Kadis Pariwisata Sulut sahabatku Pak Henry Kaitjily dkk Kadis Pariwisata di kabupaten kota didukung para stakeholder pariwisata justru semakin bersemangat mengikis pesimisme itu. Wajah muka Besae’ perlahan tapi pasti diubah dengan wajah cantik.
Caranya? Intens diadakan berbagai pelatihan dengan pembiayaan DAK non fisik misalnya, pelatihan hospitality gencar digeber di berbagai kabupaten kota.
Di Dispar Sulut malah, pelaksanaanya bagaikan kuliah tatap muka rutin per bulan. Tak itu saja. Sebab berbagai asosiasi pariwisata kayak IPI Dpdipi Sulut, Asita Sulawesi Utara, Astindo Sulut, HPI, gencar melaksanakan pelatihan pelayanan.
Ada juga per orangan, seperti Profesor Intourism Betel Lagarense, GM Angkasa Pura I Pak Minggus Gandeguai, Ibu Merry Karouwan II, James Graciaz, Hartini Mochtar, Lenny Suparti, Deiby Pangemanan dan Sandra Daisy Terok, semua punya semangat sama. Ikut benahi sektor pariwisata khususnya di sektor hospitality.
Nah. Seperti banyak ungkapan mengatakan: Usaha tak menghianati hasil.
Bertemu ketiga sosok hebat ini, yang saya cerita di atas, saya bangga. Optimis sekaligus bahagia. Melayani dengan tulus, adalah sebuah keniscayaan. Akan menjadi good habit bagi SDM di Sulut.
Di sisi lain, upaya keroyokan semua stakeholder pariwisata di Sulut dalam memerangi lewat aneka pelatihan, terhadap si ‘muka Besae’ yang susah melayani mulai sirna. Perlahan tapi pasti.
“Saya tak malu dengan kerja ini. Sebab, kerja saya adalah ibadah saya. Ladang ibadah saya bagi anak isteri di rumah dan masyarakat,” kata salah satu dari ketiga pelayan, sosok Sulut Hebat ini, saat saya temui.
Gubernur Bapak Olly Dondokambey berulangkali menegaskan, membangun Sulut, harus disadari pada kecintaan terhadap kerja yang kita lakukan.
“Jadikan pekerjaan kita sebagai ibadah. Tidak sekadar kewajiban kantor atau perusahan,” pesan Pak OD, sapaan akrab Gubernur pembuka Gerbang Pasifik Indonesia ini.
So?
Kepada ketiga kawan sosok Sulut Hebat yang saya ceritakan di atas dan pajang foto mereka, saya apresiasi dan salut buat kalian.
