Berita Utama

Cap Tikus Tidak Bisa Diminum Langsung

Cap Tikus Tidak Bisa Diminum Langsung
Kepala Disperindag Sulut, Drs Sanny Parengkuan (Foto Beritamanado)

MANADO – Walaupun bukan-satu-satunya pemicu mabuk yang berakibat tindak kriminal dan kecelakaan lalulintas, namun keberadaan cap tikus sebagai minuman keras (miras) khas Minahasa perlu mendapat perhatian serius. Tidak sedikit warga yang mati sia-sia akibat minuman kata-kata ini.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Drs Sanny Parengkuan, mengingatkan bahwa cap tikus adalah bahan baku miras yang tidak bisa dikomsumsi langsung.

“Cap tikus tidak bisa di minum langsung, bukan hanya pada efek mabuk, tapi pengaruhnya bagi kesehatan sangat berbahaya, apalagi banyak warga yang suka mencampurnya dengan zat lain,” tutur Parengkuan saat diskusi terbuka Perda Mabuk yang diselenggarakan Forum Wartawan DPRD Sulut (Forward) beberapa waktu lalu di ruang paripurna Deprov Sulut.

Namun pemerintah, menurut Parengkuan, sementara mencari alternatif lain pemanfaatan cap tikus sebagai bahan baku etanol meski terbentur biaya, juga peningkatan produksi gula aren.

“Memang sebetulnya saguer  juga bisa dijadikan gula aren yang kebetulan produksinya masih kurang. Sementara untuk etanol membutuhkan dana besar,” tambahnya.

Hal ini dibenarkan salah-satu tokoh masyarakat, AHJ Purukan, dimana menurutnya, ada beberapa pabrik pengolahan di Kabupaten Minahasa Selatan, ditutup akibat kurang perhatian pemerintah.

“Di Pinaling ada pabrik cap tikus untuk distribusi ke Rumah-Sakit dan Puskesmas dibangun dengan biaya Rp 3 miliar, tapi sekarang sudah ditutup. Begitu pula di Desa Kapitu ada pabrik untuk pembuatan gula aren, juga ditutup,” ujar Purukan. (jry)

3 tanggapan untuk “Cap Tikus Tidak Bisa Diminum Langsung”

  1. Sebenarnya alkohol jenis cap tikus ini bisa di olah menjadi jenis minuman alkohol produk asli Minahasa, tapi sapa yg mau biaya ya? Kita so bajalang2 pa kawanua WNI di Manado so ada sebenarnya yg coba2 ramu dgn berbagai campuran (tau toh orang cina jago kalu soal minuman. hihihi ada dewa mabuk kwa dorang rupa crita2 Kho ping Ho), Yang susah kwa mo se ilang itu bau captikusnya.

  2. Captikus, saguer, sophie, saledo… dkk sudah mengakar dlm masyarakat Sulut. Sukar utk dihilangkan. Apa seluruh pohon enau di Sulut harus ditebang??
    Menciptakan lapangan kerja yg banyak sangat efektif utk mencegah orang mabuk2an, mencegah orang berbuat kriminalitas. Karena ada tu dorang mo beking, ada hambak. Biar nda ada captikus le kalo nda hambak tetap angka kriminalitas tinggi. Noh ngoni lia jo di Jawa ada minuman alkohol so dorang? Mar tetap byk papancuri, rampok dsb. Orang le kalo ada karja nda mo mabo2, baku inga mo kerja besok pagi ???

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara