“Semua ini saya belajar dari yang saya pelajari selama di Citarik bersamamu,” lanjut Franky.
Lantas, Franky sampaikan satu permintaan yang membuat saya kaget sekali. Dia mau meneruskan obsesi almarhum Dudi, tokoh senior penerjun paralayang Indonesia.
“Apa itu?” selidiki saya.
“Aku mau kamu terbang.”
“Udah lah Franky,” jawab saya mengelak. “Saya tekuni arung jeram saja. Nggak usah terbang.”
“Kamu bukan orang penakut, Lodi,” Franky menguatkan saya tanpa nada mendesak.
Saya bukan penakut. Saya cuma masih menyimpan trauma melihat sahabat saya almarhum Dudi kecelakaan saat menggunakan payung paralayang saya. Meskipun itu sudah terjadi puluhan tahun lalu.
Saya minta waktu untuk berpikir dan lantas kembali ke Jakarta. Ketika sudah mantap, saya pun terbang kembali ke kota Manado untuk tinggal di sana sekitar tiga minggu.
Franky menargetkan saya untuk terbang paralayang sebanyak 40 kali penerbangan. Franky menjelaskan detail semua sistem safety paralayang dengan ringkas.
“Semua yang kita praktikkan di sini sudah teruji di luar negeri,” tegas Franky.
Semua penjelasan Franky bisa saya terima karena saya memang sangat concern dengan safety. Presentasi Franky masuk di dalam standar saya.
Itu yang membuat saya mantap untuk mencoba paralayang dipandu oleh Franky dan timnya.
Sewaktu terbang paralayang pertama kali, saya benar-benar menangis. Saya mengenang sahabat saya almarhum Dudi. Ketakutan dan keharuan menyatu di atas awan.
“Akhirnya gue bisa terbang untuk pertama kalinya!”
“Terusin … terusin terbang!” Franky masih saja memotivasi saya untuk terbang lagi dan lagi.
Setelah mencoba sepuluh kali terbang rasa takut saya sudah hilang. Saya pun dapat memenuhi target Franky untuk terbang sebanyak empat puluh kali dalam satu kunjungan itu.
Selama tiga minggu bertamu di Manado, setiap malam saya selalu diajak makan di restoran. Anak buah Franky ikut semua. Turun dari Bukit Tetempangan kami langsung meluncur ke restoran.
“Nanvie, restoran mana yang kita sewa malam ini?” Dia bayarin semua.
