
Bitung, BeritaManado.com – Tepuk tangan mendadak pecah di Unit Pelayanan Dialisis RS Manembo-nembo (RSMN) Bitung, Senin (6/7/2026).
Bukan karena pidato resmi, tapi karena satu kalimat spontan dari Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus yang menghentikan sambutannya sendiri.
Matanya tertuju pada sosok di sampingnya, Direktur RSMN Bitung, Dr dr. Nicolas Chally Tirayoh, M.Kes., FISQua.
“Berikut kamu Kadis Kesehatan ya?” ucapnya, disusul gelak tawa dan tepuk tangan seisi ruangan.
Bercanda, ia lalu menoleh ke Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulut yang turut hadir.
“Kamu masih muda. Kamu mau jadi Kadis Kesehatan Provinsi Sulut? Tunggu ibu pensiun dulu ya,” ucap Yulius Selvanus.
Sekilas terdengar seperti guyonan biasa.
Tapi bagi yang mengikuti perjalanan RSMN beberapa tahun terakhir, kalimat itu adalah pengakuan atas transformasi nyata yang sedang terjadi.
Belum genap setahun, Yulius Selvanus sudah dua kali menyambangi rumah sakit ini frekuensi yang menandakan perhatian khusus dari orang nomor satu di Sulut.
Ditempa dari Puskesmas Pesisir
Jalan Chally menuju kursi direktur bukan jalan pintas. Lahir 23 Agustus 1982, ia mengawali karier di garda terdepan pelayanan kesehatan: memimpin Puskesmas Kema, Minahasa Utara, selama sekitar enam tahun.
Di wilayah pesisir itu, ia dikenal sebagai dokter yang turun langsung ke tengah masyarakat, menggagas program kesehatan bagi nelayan yang selama ini sulit menjangkau layanan medis.
Dedikasi itu mengantarnya meraih penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Nasional dari Kementerian Kesehatan bekal yang membentuk gaya kepemimpinannya kelak: sederhana, membumi, tapi selalu berorientasi pada perubahan.
Membenahi dari Titik Nol
Empat tahun lalu, tugas berat menanti: memimpin RSMN Bitung yang saat itu masih bergulat dengan kepercayaan publik yang rendah, pelayanan yang perlu dibenahi, dan fasilitas yang belum lengkap.
Alih-alih mengambil jalan aman, Chally justru menyasar akar masalah budaya pelayanan. Digitalisasi lewat SIMRS diperkuat, budaya kerja “Care and Trust” ditanamkan, dan pasien dijadikan prioritas utama.
Hasilnya bertahap tapi nyata: kepercayaan masyarakat naik, jumlah pasien bertambah, layanan spesialis berkembang, pendapatan rumah sakit ikut terkerek.
Puncaknya tahun ini, RSMN membuka Unit Pelayanan Dialisis (Hemodialisis) layanan yang sudah lama dinanti warga Bitung, yang sebelumnya harus bolak-balik dua sampai tiga kali sepekan ke Manado hanya untuk cuci darah.
“Rumah sakit ini bukan dibangun untuk mengejar pendapatan semata. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, mudah, aman, dan berkualitas. Kalau pasien puas, kepercayaan masyarakat akan datang dengan sendirinya,” kata Chally.
Baginya, hadirnya layanan hemodialisis bukan sekadar penambahan fasilitas.
