Berita Utama

Bisa Disalahgunakan, Pentingnya Melek Literasi Digital dan Keuangan untuk Lindungi Data Diri

Mengecek histori transaksi secara berkala melalui aplikasi mobile banking.

Konsumen dapat melakukan ini dengan mudah, kapan saja, dan gratis melalui aplikasi mobile banking atau internet banking Bank tersebut.

Memperhatikan kondisi mesin ATM sebelum digunakan.

ADVERTISEMENT

Card Skimmer seringkali tidak terlihat secara kasat mata karena warna dan bentuknya telah disesuaikan dengan mesin ATM sehingga hati-hati sebelum menekan tombol PIN.

Usahakan agar tombol yang ditekan tidak terlihat oleh orang lain.

Nasabah juga perlu mencermati adanya kamera yang dapat merekam tombol PIN yang ditekan oleh nasabah.

Hindari menggunakan PIN yang mudah ditebak oleh orang lain,seperti tanggal lahir, nomor telepon, dan nomor kartu.

Dengan makin mudahnya cara transaksi yang berbasis digital, maka baik penyedia jasa, pemerintah dan lembaga pemerintah terutama masyarakat selaku pengguna jasa mau tidak mau harus mengganti hilangnya keribetan bertansaksi dengan menjaga keamanan data diri.

Ketua IEEE Computational Intelligence Society, Indonesia Chapter yang juga Ketua Indonesia Neural Network Society (IdNNS) Sampoerna University Prof. Ir. Teddy Mantoro, MSc, PhD, SMIEEE menekankan hal tersebut.

Teddy mengungkapkan, tercatat oleh BSSN lebih dari 1,6 miliar anomali trafik atau serangan selama kurun waktu 2021, yang berarti 3x lipat dibanding tahun 2020.

Bahkan di 2022 ini, sudah ada begitu banyak contoh kasus yang terjadi di berbagai provinsi terhadap sejumlah bank.

Modus penipuan dan penyalahgunaan data nasabah juga makin banyak, selain lewat social engeenering, ada juga lewat pesan WA, SMS, link, skimming dan sebagainya.

Untuk itu, Teddy mengatakan, menjadi pribadi yang melek keamanan digital bukan lagi sebatas pada pilihan tapi keharusan.

Teddy pun menyarankan kepada pemetintah agar bertindak salah satunya dengan melaporkan situs sejenis yang terindikasi menyebar penipuan ke bidang terkait seperti Kemkominfo lalu segera diblokir.

Selain itu, bank harus proaktif terutama dalam menangkap keluhan dari pelanggan jika terkait masalah transaksi digital.

“Penting untuk ditayangkan di websitenya, baik itu follow up dan service deliverynya,” kata Prof Teddy.

Hal serupa pun harus dilakukan media massa yaitu meningkatkan literasi digital khsususnya transaksi digital dan problem solving yang presisi.

“Sementara untuk pelanggan, yaitu kita masyarakat, penting untuk berliterasi digital yang baik dan

senang belajar dari pengalaman dan hati-hati. Pelanggan yang cakap juga adalah yang mengaktifkan TFA (Two Factor Authentication) atau autentifikasi 2 faktor, serta password tidak boleh sama pada semua platform,” pungkas Teddy.

(srisurya)