TOMOHON – Sikap ngotot, tangguh, kontroversial, oposisi dan kritis terhadap kebijakan pemerintah, sebagai ciri khas yang dianut oleh Partai Demokrat (PD) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Tomohon akhir-akhir ini mulai luntur alias ilang taji. Bahkan terkesan mulai takut mengkritisi kebijakan yang ditempuh pemerintahan kuning saat ini di bawah kepemimpinan Jimmy Eman SE AK.
Hal ini terlihat dengan sikap menerima dan menyetujui dalam setiap pemandangan akhir fraksi yang dilakukan, seperti dalam sidang-sidang paripurna akhir-akhir ini. Diantaranya Ranperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), pengunduran diri Jefferson SM Rumajar sebagai walikota dan pengusulan pendefinitifan Jimmy F Eman SE Ak sebagai Walikota Tomohon, Ranperda APBD-P 2011, Ranperda tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Semuanya berjalan mulus.
Sikap ini sangat kontras di saat Tomohon dipimpin oleh Jefferson SM Rumajar SE. Dimana setiap kebijakan serta keputusan yang harus mendapatkan persetujuan dari legislator, tidak akan berjalan dengan mulus. Bahkan voting pernah dilakukan dalam mengambil satu keputusan. Maklum, fraksi di DPRD merupakan perpanjangan tangan partai, yang notabene ngotot memilih sikap berseberangan dengan pemerintah.
Menyikapi hal ini, Youddy Moningka selaku Ketua Terpilih DPC Partai Demokrat Kota Tomohon dalam wawancaranya dengan beritamanado.com belum lama ini secara tegas membantahnya. Menurutnya, sampai dengan saat ini PD tetap bersikap kritis terhadap pemerintah. “Kami bukannya ilang taji seperti yang anda (wartawan, red) sebutkan. Tetap ada kritik yang diberikan oleh Partai Demokrat. Tapi kritik yang bagaimana dulu. Memang saat ini ada kesan seperti itu,” ungkap Ketua Banggar DPRD Kota Tomohon ini.
“Contohnya seperti Jamkesda yang disampaikan kali lalu yang ternyata belum dibayar oleh Pemkot ke PT Askes sehingga masyarakat tidak bisa berobat ke rumah sakit di Tomohon. Kita prinsipnya selalu mencari solusi dalam rangka pengembangan dan pembangunan. Oleh sebab itu kritik yang diberikan bukan dalam arti kritik yang mengancurkan, namun kritik membangun,” tukasnya. (iker)
