Berita Utama

Bincang Literasi Nusantara, Awali Sangihe Writers & Readers Festival

Sastrawan Eko Poceratu bertutur bagaimana puisi menjadi “alat perlawanan” dirinya untuk mengkritisi berbagai fenomena sosial yang dia temukan di sekelilingnya.

Hal ini tampak, tatkala ia membacakan salah satu puisinya “Mariana” dari buku kumpulan puisi “Hari Minggu Ramai” (2018).

Mariana
perempuan yang mati beranak di Papua

Sirine panjang
Mariana masuk pabrik
Menghadap mesin
Memulai deru kehidupannya
Dengan mata layu
Ia lalu jatuh
Begitu saja
Pecah ketuban
Mengalir ke dekat mesin
Mandor melempar majun
Operator lap air ketuban
Pekerja berhamburan
Supervisor berlari datang
Mariana diangkut ke dalam truk
Dibawa ke klinik
Darahnya tumpah di atas truk
Berbaur dengan merah air merbau
ini tubuh dan kayi
Sama-sama dipotong dan dijadikan produk
dijual dan dipakai
Lalu dibuang ketika sudah habis nilai gunanya
Mariana tersenyum tipis
Kepada awan cendawan
Juga langit magnit
Matanya buka tutup
Hidup ini lucu
Dimulai dengan buka mata
dan berakhir dengan tutup mata

Pembatinan Eko dengan kondisi sosio-budaya di Papua dan Maluku dituangkan dalam kumpulan buku puisinya, yang menjadikan puisi sebagai alat penyampai pesan atau “alat perlawanan yang estetis”.

Melalui Eko kita dapat melihat bagaimana sastra itu bermakna dan berfungsi menjadi aksi-aksi literasi yang lebih luas

Lain halnya dengan Wien Muldian, sosok pemikir literasi ini dengan lugas memberikan kontruksi pemikiran dan pemodelan gerakan literasi yang terstruktur.

Gerakan literasi harus juga didesain menjadi gerakan multidimensi yang masuk ke berbagai sendi kehidupan.

Tak boleh sebuah gerakan literasi hanya dimaknai urusan “dinas perpustakaan” saja, namun harus menjadi kebutuhan atas seluruh sendi kehidupan

Perbincangan yang berlangsung selama 150 menit ini cukup memantik para peserta yang hadir, salah satunya adalah JR Iroth, sastrawan dari Bolaang Mongondow Timur yang tengah membangkitkan gerakan literasi di Pantai Molobog. Sebuah kritik ia sampaikan terkait kelemahan “pemahaman” pemerintah daerah Boltim yang belum mengerti dan mengenali gerakan literasi. Para penyair dan geliat literasi di Boltim tumbuh dengan mandiri tanpa hadirnya sosok “pemerintah” yang harusnya menjadi “ibu” dalam pemajuan kebudayaan.

Pra-kegiatan SWRF yang dilaksanakan secara daring ini, Bincang Literasi Nusantara, akan berlangsung sebanyak 10 sesi/topik bahasan, pada setiap Jumat.

Bincang ini akan melibatkan sejumlah pemikir, intelektual, sastrawan, penulis dan aktivis di daerah maupun nasional.

Gong perhelatan SWRF telah ditabuh, dan kita akan simak seberapa jauh gaungnya menggema? Apakah SWRF dapat menjadi inspirasi perubahan, ataukah hanya wacana tanpa aksi? Waktu yang akan menjawabnya…

(***/Finda Muhtar)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara