Berita Utama

Bincang Literasi Nusantara, Awali Sangihe Writers & Readers Festival

Sangihe, BeritaManado.com – “Literacy is the ability to identify, understand, interpret, create, communicate and compute, using printed and written materials associated with varying contexts. Literacy involves a continuum of learning in enabling individuals to achieve their goals, to develop their knowledge and potential, and to participate fully in their community and wider society (UNESCO, 2004; 2017).”

Kalimat definisi literasi dari UNESCO merupakan sebuah paparan pembuka Tomy Bawulang, penulis dan penggiat literasi asal Sangihe.

Sebagai putra daerah yang telah berkelana ke berbagai penjuru, Tomy menyatakan bahwa kesadaran literasi yang dipahaminya adalah bagaimana membuat seluruh ilmu pengetahuan menjadikan dirinya lebih berguna.

Oleh sebabnya, pendirian SEIKU (Sentra Ekonomi Inklusif Kampung Utaurano), sebuah pusat pembelajaran masyarakat di kampung Utaurano Kabupaten Kepulauan Sangihe yang di inisiasinya merupakan tafsir atas “aksi” dalam berliterasi.

Bagi Tomy kesadaran literasi bermakna lebih dari hanya membaca dan menulis, tapi bagaimana pengetahuan yang didapatkan menjadikan seorang memiliki kemampuan yang cerdas dalam menyiasati berbagai persoalan yang ditemui dalam kehidupan ini.

Kegiatan awal Sangihe Writers & Readers Festival (SWRF), Bincang Literasi Nusantara, ini dilakukan secara daring, pada Jumat, 3/9, kemarin.

Tema yang dipilih, “Literasi adalah Aksi”.

“Tema ini diharapkan bisa menarik minat dan perhatian seluruh partisipan berbuat langkah nyata, tidak hanya sekedar mengusung wacana,” urai Tomy Bawulang.

Sekertaris Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Melanchton Harry Wolff, mengatakan perhelatan SWRF merupakan sebuah upaya intelektual yang diharapkan dapat memancing tumbuh kembangnya berbagai gagasan untuk kemajuan pembangunan di seluruh dunia.

“Dari Sangihe, kami sampaikan pesan-pesan peradaban bagi dunia,” ungkap Harry.

bagi masyarakat Sangihe, pernyataan tersebut merupakan sebuah pernyataan yang berani dan percaya diri.

Bagaimana tidak, ketika Indonesia selama ini mengenal Sangihe sebagai daerah terluar, tertinggal dan paling utara, melalui pernyataan Harry tersurat paradigma yang ingin diubah.

Paradigma, bahwa Sangihe adalah wilayah “Terdepan” yang memiliki kearifan masa lalu dan dapat saling menginspirasi membangun negeri.

Perhelatan SWRF adalah perayaan literasi pertama yang diselenggarakan di Sulawesi Utara.

Para peserta diskusi berasal dari berbagai wilayah mulai dari paling barat, Balige Sumatera utara, Jawa, Kalimantan, hingga Maluku.

Secara daring para peserta bertukar gagasan tentang upaya membumikan makna literasi.

Deasy Tirayoh penulis penerima beasiswa residensi dari Komite Buku Nasional yang didapuk menjadi moderator berhasil memandu diskusi secara menarik dan hidup.

Melalui kepiawaiannya, Deasy berhasil menggali perspektif narasumber Eko Saputra Poceratu, penyair muda dari Ambon dan Wien Muldian, tokoh gerakan literasi nasional untuk menyajikan pandangan masing-masing sebagai inspirasi aksi.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara