
Manado, BeritaManado.com — Digitalisasi ekonomi di Sulawesi Utara terus berkembang pesat. Masyarakat kini semakin beralih menggunakan kanal pembayaran digital dalam bertransaksi.
Sepanjang awal 2025, jumlah transaksi ritel melalui BI-Fast di Sulut mencapai 2,6 juta kali dengan nominal hingga Rp5,1 triliun.
Perkembangan ini disertai penurunan transaksi melalui Sistem Kliring Nasional (SKN) yang hanya tersisa Rp766 miliar, serta perlambatan pada transaksi BI-RTGS.
Selain itu, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan uang elektronik (UE) mengalami pertumbuhan signifikan. Sementara itu, transaksi dengan kartu debit maupun kredit tercatat menurun.
Bank Indonesia menilai, pergeseran perilaku ini menunjukkan masyarakat semakin percaya pada sistem pembayaran digital yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara pun terus mendorong penguatan sektor riil, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ekonomi syariah.
Sektor-sektor tersebut juga diketahui memiliki segmen transaksi digital yang sangat besar karena kecenderungan masyarakat untuk melakukan transaksi dengan lebih praktis cenderung lebih tinggi.
Melalui ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI), BI Sulut berupaya mempercepat UMKM agar bisa naik kelas, go digital, dan menembus pasar ekspor.
Program ini sejalan dengan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang mendorong masyarakat lebih mencintai produk lokal.
Di sisi lain, ekonomi syariah juga diperkuat lewat Festival Ekonomi Syariah (FESyar) yang menghadirkan berbagai kegiatan, termasuk mobilisasi zakat dan wakaf produktif.
Upaya ini diharapkan dapat memperluas mata rantai ekonomi halal dan mendukung sektor-sektor unggulan di daerah.
“Sinergi dengan berbagai pihak menjadi kunci agar UMKM dan ekonomi syariah bisa berkembang berkelanjutan,” kata Andry Prasmuko.
(srisurya)
