
Jumlah pengunjung dari China Daratan ke Jepang turun 56,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada April, menandai penurunan selama lima bulan berturut-turut, tunjuk data pemerintah pada Rabu (20/5).
Data yang dirilis oleh Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (Japan National Tourism Organization/JNTO) itu menunjukkan bahwa jumlah kedatangan wisatawan dari China Daratan dalam empat bulan pertama 2026 turun 55,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejak Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pernyataan keliru mengenai Taiwan, jumlah wisatawan dari China Daratan yang bepergian ke Jepang terus menurun, sehingga memberikan tekanan pada sektor ritel, akomodasi, dan katering Jepang.
Selain pasar China Daratan, jumlah pengunjung dari Eropa dan Timur Tengah juga menurun signifikan pada April.
Akibat ketegangan berkepanjangan di Timur Tengah, sejumlah rute penerbangan mengurangi layanan dan harga tiket pesawat meningkat, yang menyebabkan jumlah pengunjung dari Timur Tengah turun 21,4 persen (yoy).
Di antara negara-negara utama Eropa, jumlah pengunjung ke Jepang dari Italia, Spanyol, dan Jerman masing-masing turun 34,2 persen, 21,6 persen, dan 15,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Laporan keuangan yang baru-baru ini dirilis sejumlah perusahaan Jepang menunjukkan bahwa penjualan bebas bea mengalami tekanan besar akibat penurunan jumlah wisatawan China.
Pada tahun fiskal 2025, yang berlangsung dari April 2025 hingga Maret 2026, gabungan penjualan bebas bea dari tiga pusat perbelanjaan di Fukuoka turun 20 persen (yoy). Di antaranya, pusat perbelanjaan Hakata Daimaru melaporkan penurunan penjualan bebas bea sebesar 39 persen sehingga mengakibatkan kerugian.
