
Manado – Pernyataan menarik diungkapkan politisi Partai Golkar Kota Manado, Sonny Lela, terkait berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah dan warga masyarakat ibukota Provinsi Sulut ini.
Dikatakan Lela, saat ini Kota Manado tidak lagi seindah seperti Manado yang dulu. Karena berdasarkan penilaiannya, kondisi kota yang carut marut, sehari-harinya tergambar ketika mengelilingi seluruh wilayah Kota Manado.
“Manado tidak baik dipandang lagi. Boulevard saja sebagai ikon Manado, sudah tidak indah dilihat. Selain macet, ketika melintas di Boulevard, banyak tali rafia yang tergantung ditengah jalan. Belum lagi, parkiran kendaraan bermotor yang sudah tidak lagi diparkir ditempatnya. Melainkan, trotoar yang berfungsi sebagai tempat pejalan kaki, malah dipenuhi motor-motor,” ujar Lela.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Manado ini berpendapat, persoalan kemacetan dan kondisi jalan termasuk keindahan taman kota, tidak tertata rapi. Sehingga pemandangan yang kurang enak dilihat, menjadi santapan keseharian warga yang melintas di lokasi-lokasi tertentu tersebut.
“Menurut saya, penataan kota kurang nilai estetikanya. Termasuk di Manado sangat kurang lahan hijau. Manado banyak ikon, tapi tidak tertata dengan baik. Penanganan sosial sangat berhasil, tapi merubah wajah Kota Manado tidak berhasil. Banyak anggaran yang digunakan tidak mampu menciptakan Manado yang indah dan bersih,” kata Lela.
Ia pun menuding, pemimpin Kota Manado saat ini tidak mampu mewujudkan Manado sebagai kota ekowisata, karena kurangnya pemahaman tentang penataan kota yang baik.
“Wali Kota saat ini tidak memiliki pandangan untuk merubah Manado menjadi baik. Bahkan, Manado gelap, meski puluhan miliar dipakai untuk pengadaan lampu jalan solar cell yang ternyata tidak berfungsi sebagaimana diharapkan. Jadi menurut saya, Wali Kota kedepan harus memiliki jiwa satria baja hitam, yang dapat merubah kota ini layak disebut kota ekowisata dan kota besar, setara dengan kota-kota maju lainnya. Manado maju, masyarakat sejahtera,” tegasnya. (leriandokambey)
