
Marlina: Tampilnya ADM di Dunia Politik, Tidak Ada Paksaan. Itu Pilihannya Sendiri.
Marlina kini banyak menghabiskan waktunya dengan menghadiri berbagai undangan acara yang hampir tiap hari datang padanya. Sesekali Sang Bunda meluangkan waktu ke pasar dan berziarah ke makam sang suami.
“Kepergian suami sempat membuat saya terpukul. Untuk melepas rasa rindu, saya mengajak anak-anak berdoa di dalam rumah, dan berziarah ke makam beliau,” kata Marlina.
Berikut lanjutan Wawancara Eksklusif Alvin Ratag dengan Sang Bunda di kediaman pribadinya. Dalam setiap awal sebuah pembicaraan, kata Almahdulilah dan Puji Tuhan selalu disertakan untuk mengawali kalimat yang akan diucapkan Marlina.
BM: Bagaimana anda melihat sosok/figur seorang ADM ?
MMS : Sekali lagi, tampilnya ADM di Dunia Politik, Tidak Ada Paksaan. Itu Pilihannya Sendiri. Bunda melihat ADM memiliki bakat besar di dunia politik. Saat ini ADM masih dalam tahap penyesuaian saja. Bunda yakin ia akan tumbuh menjadi seorang Politisi yang tangguh.
BM : Julukan “Bunda” di “baptiskan” masyarakat dan sebagaian tokoh-tokoh Bolmong sehinga saat ini menjadi tambahan nama seorang Marlina, apa yang melatarbelakanginya ?
MMS : Itu tak pernah saya tau, mungkin spontanitas saja julukan itu datang, karena saya mungkin menjadi Bupati Perempuan Pertama di Bolmong.
BM : Atau mungkin karena Bunda dianggap mampu menembus mitos dari pandangan kalangan muslim fanatik yang menganggap seorang perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin ?
MMS : Bisa juga demikian. Bunda tak tau persisnya.
(Pembicaraan sempat terhenti beberapa saat karena kami tiba-tiba didatangi seorang bapak yang datang menjual kue dagangan di hadapan Marlina. Dengan ramah, mantan “Orang Kuat” Totabuan ini menginstrusikan seorang pembantu dengan menggunakan bahasa Mongondow untuk membeli kue yang dijual. Pintu rumah pribadi mantan Atlit Tenis Porda ini memang tak pernah dikunci. Pintu pagar besi nya yang kokoh selalu terbuka sehingga siapa saja yang datang memang diterima.)
BM : Pada pemilihan Gubernur beberapa waktu lalu, kenapa lebih memilih berpasangan dengan SVR (Stefanus Vreeke Runtu) dibanding dengan TLS (Theo L. Sambuaga) yang menurut penilaian merupakan lawan sepadan SHS (Sinyo Harry Sarundajang). Menurut analisa sebenarnya tumpuan kekuatan atau basis massa lebih berada di tangan seorang Marlina yang dapat menentukan sendiri pasangannya ?
MMS : Sebenarnya penentuan pasangan sebagai calon Gubernur dan Wagub mewakili Partai Golkar itu merupakan hasil rapat marathon DPP yang berlangsung hingga 4 kali, jadi itu bukan merupakan kemauan Bunda pribadi, tapi garis komando partai.
BM: Jika ada wacana agar Kabupaten Bolmong Raya dapat “ber mutasi” menjadi Propinsi Totabuan, apakah Bunda tertarik maju untuk menjadi seorang Gubernur Totabuan?
MMS : Sama sekali tidak. Cukuplah. Sudah banyak kader yang Bunda bina. Sudah selayaknya tongkat estafet diberikan kepada yang lebih muda. Pemekaran Bolmong, merupakan sebuah kerja keras, dan sungguh memakan banyak energy. Jika Bunda mau egois, pemekaran itu dapat saja Bunda “Pending” hingga selesai masa jabatan sebagai Bupati, namun karena kepentingan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih besar, Bunda bekerja keras untuk mewujudkan pemekaran tersebut.
(Marlina Moha merupakan Bupati Wanita Pertama di Bolmong, bahkan di Indonesia Timur. Ayahnya seorang mantan Polisi yang pernah menjabat sebagai Wakapolres Bolmong, dan sang kakek masih keturunan langsung raja besar di tanah Totabuan. Ia sempat maju mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur beberapa waktu berpasangan dengan Stefanus Vreeke Runtu)
BM : Bunda dikenal sebagai pribadi yang keibuan tapi juga keras, hingga sikap keras itu kadang diidentikan kerap tak sejalan dengan Garuda 1 (Gubernur) ? Bagaimana Bunda mengomentarinya ?
MMS: (Bunda tertawa lepas sambil mengatur posisi untuk melajutkan pembicaraan). Gubernur itu seorang Khalifah (Pemimpin). Bunda menganggap SHS sebagai seorang Kakak. Hubungan kami baik, komunikasi tetap jalan. Bahkan sudah tidak menjabat pun, komunikasi masih berlangsung baik. Mungkin karena Bunda lahir dari keluarga TNI / Polri sehingga terlihat tegas.
BM: Apakah kepergian sang suami cukup membuat Bunda terpukul ?
MMS : Kepergian suami tercinta memang cukup membuat Bunda terpukul. Suasana luka itu agak tertutupi saat Bunda masih menjalankan tugas sebagai Bupati. Sekarang untuk melepas rasa rindu Bunda selalu mengajak anak-anak sholat bersama dan mengunjungi makam beliau (suami-red). Disamping itu, Bunda juga mengisi waktu dengan mendirikan sebuah yayasan sosial yang akan mulai action dalam waktu dekat, yang mengkhususkan diri memberdayakan potensi masyarakat kecil, khususnya ibu-ibu. Bunda berupaya mendorong dan memotivasi para ibu-ibu agar mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.
Tamat (Alvin Ratag)

tinggalkan politik Dinasti