Manado, BeritaManado.com – Terhitung tanggal 14 Januari 2020, Pemerintah Indonesia akan melaksanakan vaksinasi COVID-19 tahap pertama.
Olehnya berbagai kesiapan dilakukan, termasuk distribusi vaksin ke daerah-daerah.
Selasa (5/1/2021) digelar Rapat Koordinasi Kesiapan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 dan Kesiapan Penegakan Protokol Kesehatan (Prokes) Tahun 2021 yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian.
Rapat virtual ini turut diikuti Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Edwin Silangen yang mewakili Gubernur Olly Dondokambey dari Ruang Command Center Kantor Gubernur Sulut.
Juga bersama Sekprov, hadir pula Asisten I Pemprov Sulut Edison Humiang beserta Kadis Kesehatan Sulut Debby Kalalo mengikuti
KESIAPAN PELAKSANAAN VAKSINASI COVID-19
Rakor yang diselenggarakan oleh Setjen Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Gedung Sasana Bhakti Praja Kemendagri, dihadiri oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo dan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.
Menkes Budi memaparkan kesiapan pelaksanaan vaksinasi Covid-19.
Menkes Budi menyampaikan tugas yang diberikan oleh Presiden dalam jangka pendek adalah menyelesaikan program vaksinasi dengan sebaik-baiknya dan mengatasi pandemi ini dengan secepat-cepatnya.
Menkes telah memetahkan jumlah penerima vaksin di Indonesia.
Dimana, dari 269 juta penduduk Indonesia, yang berusia di atas 18 tahun, diidentifikasi ada 188 juta rakyat.
“Dari 188 juta ini, yang dikeluarkan karena kondisi hamil, memiliki komorbit (Penyakit bawaan) yang banyak, dan pernah terkena Covid-19 jadi tinggal 181 juta rakyat. 181 juta inilah yang menjadi target vaksinasi kita. Karena vaksinasi membutuhkan 2 dosis, jadi dikali 2. Sesudah itu, kita mencadangkan 15% dari jumlah tersebut jadi total 426 juta. Itu adalah angka jumlah dosis vaksin yang harus kita siapkan,” ungkap Menkes Budi.
Menkes Budi mengungkapkan bahwa saingan untuk mendapatkan vaksin di dunia, tinggi sekali.
Karena jumlah penduduk dunia ada 7,8 miliar, jika yang harus divaksinasi 70% sekitar 5,5 miliar, dikalikan 2 jadi total 11 miliar penduduk.
Sedangkan produksi vaksin di dunia, kapasitasnya hanya 6,2 miliar, itupun sudah dipakai untuk vaksin yang lain.
Jadi membutuhkan waktu antri sekitar 2 tahun untuk mendapatkan vaksin tersebut.
“Dan Indonesia bersyukur telah mendapatkan vaksin tersebut,” kata Menkes.
Adapun jenis vaksin yang diperoleh Indonesia yaitu dari Cina Sinovac 125 juta dosis, dari Amerika-Canada Novavax 50 juta dosis, dan dari Inggris AstraZeneca 50 juta dosis.
“Covax/Gavi organisasi multilateral, Badan WHO yang memberikan akses vaksin ke negara-negara menengah ke bawah, termasuk Indonesia, sejumlah 10% dari populasi kita yaitu 54 juta, dan diberikan secara gratis. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini akan mendapat kontrak dengan Pfizer perusahaan Amerika-Jerman 50 juta dosis. Jadi total vaksin yang pasti sudah dimiliki adalah sekitar 270-an juta. Sisanya berupa opsi dari 420-an juta yang dibutuhkan,” jelasnya.
Menkes Budi juga memaparkan jadwal kedatangan vaksin mulai dari bulan Januari 2021 sampai dengan Maret 2022.
Selanjutnya Menkes Budi memaparkan tahapan pemberian vaksin, yaitu:
Tahap I: Periode vaksinasi Januari – April 2021
- Petugas Kesehatan 1,6 juta
- Petugas Publik 17,4 juta
Tahap II: Periode vaksinasi April 2021 – Maret 2022
- Masyarakat Rentan 63,9 juta
- Masyarakat Lainnya 77,1 juta
Menkes Budi juga mengingatkan kepada seluruh kepala daerah untuk dapat memastikan dan memonitor data tenaga kesehatan adalah valid, semua telah terdaftar.


