
Manado – Kepasifan yang ditunjukan oleh 18.000-an mahasiswa yang ada di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado beberapa Tahun ini menuai keprihatinan bagi sejumlah aktivis yang merupkan produk dari dunia tersebut.
“Semangat, energik, objektif, rasional serta penuh dengan idealisme adalah gambaran untuk kaum mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai agent of change. Namun sangat disayangkan hal-hal tersebut tidak didapati lagi pada mahasiswa saat ini,” papar Hendra Ulalu, SH yang merupakan mantan aktivis dari FH Unsrat.
Senada dengan Ulalu, Taufik Tumbelaka kepada beritamanado mengungkapkan bahwa terjadinya sikap apatisme dikalangan mahasiswa saat ini akibat telah terjadinya degradasi kepekaan.
“Hal ini terjadi (khusunya di Unsrat) karena telah terjadi degradasi kepekaan. Dan kalau hari ini telah terjadi berarti ada kesalahan penerapan sistem pendidikan yang ada di kampus,” papar Tumbelaka.
Ditambahkannya bahwa, “Seharusnya kampus mampu melahirkan manusia-manusia yang terdidik dengan kepekaan sosial yang tinggi,” tambah Tumbelaka.
Kritikan ini mengalir sebagai akibat dari apatisme mahasiswa yang terkesan acuh, disaat Unsrat sementara berpolemik sebagaimana pemberitaan media belakangan ini.(gn)

Tu tofik memang kalu bicara asal malontok “”ndak usah pake padia cuma asal bicara kErja laeng jo kwak””””
so ngana tyto12 salah satu mahasiswa paling biongo qta pernah lia.,,..,.mahasiswa rajin kuliah, rajin belajar, rajin beking tugas,.dll dicap mahasiswa cah beres…,ada mo belajar cuma dp bilang ditindas,…so ngana memang itu buta dan tuli..nanti itu marjinal yg mo kase makang p ngana,,.sampe ngana jadi pengangguran trs mnerus daripada mahasiswa lain yg so bkerja.,.,so beti2 dengan taufik ngana..,..
Bukannya tidak peka,
Pimpinan sekarang sudah pandai, bisa menekan mahasiswa bukan dengan kekerasan dan otoriter seperti zaman 1998 ke bawah, tetapi di tekan dengan kurikulum pendidikan yang padat…
hasilnya, mahasiswa sibuk kuliah-buat tugas-pulang-buat tugas-tidur…..
hasilnya bukan cuma itu, tapi juga : lulusan Unsrat kalah dibandingkan dengan mahasiswa daerah lain jika ada pertemuan tingkat nasional, jiwa-jiwa kepemimpinan mahasiswa itu sudah sulit di dapat, klo sampai ada yang berani maka akan di cap sebagai kaum marjinal…
pimpinan unsrat maunya yang pimpinan mahasiswa itu yang rajin kulih (klo boleh IP 4) walau tidak tahu bicara atau tidak tahu organisasi..
tapi kami tidak buta dan tidak tuli, kami mahasiswa tidak semuanya diam kalau di tindas…!!
Taufik ini pemau mahasiswa jadi tukang demo..!!!
Mahasiswa itu orang tua ada se skolah supaya jadi sarjana bukang tukang demo rupa ngana!!!! asbun skali eh…
Mau-nya si Taufik, universitas jadi ajang demo ‘kali.
Saran saya untuk sdra Taufik,, supaya pendapat anda obyektif, teliti dan pahami pokok masalah yang terjadi di Unsrat sebelum berkomentar, sebab kalau anda hanya mendengar sepihak, tidak memahami masalahnya, akan menghasilkan kesimpulan seperti komentar anda. sekedar mengingatkan dari ribuan dosen di Unsrat,,hanya 10 orang ini yang ribut ribut……………………
… voor Bpk. Taufik Tumbelaka : nyanda samua peserta pendidikan di Unsrat telah apatis. Mohon bapak periksa apsip berita di koran sambung jaring ini dan koran cetak lain yang menyangkut dibawanya aspirasi peserta pendidikan ke deprov untuk mencari jalan damai bagi hal yang ada.
Dan telah ada penyelesaiannya. Karena prinsip torang samua basudara deng selalu Ora et Labora. We love Unsrat, we love Pak Rektor, we love semua guru-suru besar dan dosen, we love staf administrasi, we love all of you. GOD bless you.