
Penulis: Tim Redaksi
DPP Partai NasDem menggelar diskusi buku Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme di Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Senin (14/9/2026).
Dalam forum tersebut, Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Utara Iskandar mengungkap gagasan Surya Paloh yang menjadi alasan dirinya menulis buku tentang perjalanan pengabdian tokoh tersebut.
Diskusi itu menghadirkan Iskandar, S.T. selaku penulis buku dan Suryopratomo, Presiden Direktur PT Gajah Tunggal, sebagai narasumber. Acara dimoderatori Presenter Metro TV Eva Wondo dan dibuka dengan pengantar Wakil Ketua MPR RI yang juga Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem Lestari Moerdijat.
Bagi Iskandar, perjalanan panjang mengikuti dan mengalami langsung pengabdian Surya Paloh meninggalkan kesan kuat. Ia menilai ada sesuatu yang menarik untuk dituangkan dalam sebuah buku.
“Saya melihat sesuatu yang sangat menarik untuk saya tulis. Saya melihat Pak Surya Paloh itu adalah seorang tokoh bangsa yang setiap saat saya bertemu, topik pembicaraan kami cuma satu, yaitu bagaimana berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara,” kata Iskandar.
Gagasan Surya Paloh tentang politik tanpa mahar
Iskandar kemudian menjelaskan gagasan Surya Paloh yang paling membekas selama belasan tahun mengikuti perjalanan pengabdiannya.
Menurut dia, salah satu hal yang terus terlihat adalah konsistensi Surya Paloh dalam memikirkan kemajuan bangsa dan negara. Gagasan itu, kata Iskandar, salah satunya diwujudkan melalui politik tanpa mahar yang dijalankan Partai NasDem.
Iskandar juga menyoroti pilihan Surya Paloh untuk tetap memikirkan kondisi Indonesia meski memiliki kesempatan menikmati masa tua sebagai seorang pengusaha sukses.
Menurutnya, Surya Paloh sebenarnya telah memiliki berbagai hal yang dibutuhkan dalam kehidupan, mulai dari kehormatan, kekayaan hingga waktu yang luas. Namun, perhatian terhadap keadaan bangsa dan negara tetap menjadi kegelisahan yang ditunjukkannya.
“Beliau tidak kekurangan apapun dalam hidupnya. Kehormatan, kekayaan, waktu yang luas. Tapi apa yang beliau lakukan hanya satu, memikirkan dan selalu gelisah melihat keadaan bangsa dan negara ini,” ujar Iskandar.
Buku Suryapalohisme ditulis lima bulan
Buku Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme sendiri dikerjakan Iskandar dalam waktu sekitar lima bulan. Proses penulisan tersebut berangkat dari pengalaman serta pengamatannya terhadap perjalanan pengabdian Surya Paloh selama belasan tahun.
Iskandar kemudian mempersembahkan buku tersebut kepada Surya Paloh pada hari ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Buku itu menjadi bentuk penghargaan Iskandar terhadap perjalanan hidup sekaligus pengabdian Surya Paloh kepada bangsa dan negara.
Diskusi buku di NasDem Tower tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Iskandar untuk menjelaskan latar belakang lahirnya buku dan gagasan yang ia tangkap dari perjalanan Surya Paloh. Bagi Iskandar, Suryapalohisme lahir dari gagasan serta konsistensi yang ia saksikan dalam perjalanan pengabdian tersebut.
