
Penulis: Tim Redaksi
MANADO — Budaya kebersamaan dan tolong-menolong masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut) ternyata bukan sekadar cerita lama.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Sosial Budaya 2025, Sulawesi Utara resmi menempati posisi puncak sebagai provinsi dengan tingkat partisipasi gotong royong tertinggi di seluruh Pulau Sulawesi.
Tak tanggung-tanggung, persentase penduduk usia 10 tahun ke atas di Sulut yang aktif mengikuti kegiatan gotong royong di lingkungan sekitar dalam 3 bulan terakhir mencapai 52,10 persen.
Capaian ini menempatkan provinsi berjuluk Nyiur Melambai tersebut di posisi pertama, sekaligus menjadi satu-satunya wilayah di Sulawesi yang angkanya berhasil melampaui rata-rata nasional (47,40%).
Murni Budaya “Mapalus” yang Masih Mengakar
Tingginya angka partisipasi di Sulawesi Utara ini tidak lepas dari tradisi Mapalus—sistem kerja sama dan gotong royong tradisional khas Minahasa—serta nilai kebersamaan yang sudah mendarah daging di berbagai kabupaten dan kota se-Sulut.
Masyarakat Sulut terbukti masih sangat solid dalam menjaga kebersihan lingkungan, membantu tetangga yang berduka maupun menggelar hajatan, hingga kerja bakti rutin di tingkat desa dan kelurahan.
Peringkat Gotong Royong se-Sulawesi (Data BPS 2025)
Di posisi kedua di bawah Sulawesi Utara, terdapat Sulawesi Tengah dengan tingkat keterlibatan warga mencapai 46,65 persen, disusul oleh Sulawesi Barat di angka 44,01 persen.
Berikut rincian lengkap persentase partisipasi gotong royong masyarakat se-Sulawesi berdasarkan data BPS:
1 Sulawesi Utara: 52,10% (Tertinggi & di atas Rata-rata Nasional)
2 Sulawesi Tengah: 46,65%
3 Sulawesi Barat: 44,01%
4 Sulawesi Selatan: 40,59%
5 Sulawesi Tenggara: 37,16%
6 Gorontalo: 31,20%
Rata-rata Nasional: 47,40%
Sinyal Positif Kepedulian Sosial
Data BPS ini mengukur partisipasi aktif warga dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
Hasil ini menjadi bukti kuat bahwa kepedulian sosial di Sulawesi Utara tetap terjaga kokoh di tengah gempuran era digitalisasi dan gaya hidup individualis.
Capaian Sulut ini menjadi inspirasi nyata pentingnya merawat tradisi lokal untuk terus mempererat rasa persaudaraan dan menjaga nilai-nilai luhur kebangsaan di tengah kehidupan bermasyarakat.
