
Tomohon, BeritaManado.com — Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) melalui Bidang Data dan Informasi, sebagaimana ketetapan Sidang Majelis Sinode Tahunan ke-32 tahun 2019 lalu, Selasa (11/2/2020) menggelar Workshop Kearsipan dan Sejarah Jemaat.
Dalam kegiatan ini, setiap peserta dimintakan untuk membawa satu berkas Sejarah Jemaat dan Sejarah Wilayah dalam bentuk soft copy maupun hard copy (buku).
Sekretaris Umum BPMS GMIM Pdt. Evert Tangel STh MPdK kepada BeritaManado.com menjelaskan sebagaimana tertera dalam undangan yang disebarkan yaitu kegiatan tersebut didasarkan pada kebutuhan pelayanan sekaligus akan menjadi pangkalan data GMIM untuk kebutuhan di tahun-tahun yang akan datang.
Demikian juga dengan sejarah jemaat yang menurut anggapan sebagian orang itu adalah hal yang mudah dan belum terlalu penting untuk dibahas, akan tetapi waktu yang terus berjalan pada kurun waktu puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun kedepan, sejarah akan tetap sebagai sesuatu hal yang penting dan menjadi saksi tentang sesuatu yang pernah ada, baik secara lisan, tulisan maupun visual.
“Maksud dan tujuan digelarnya kegiatan ini yaitu memberikan kesadaran tentang pentingnya sejarah jemaat, memberikan pemahaman tentang pentingnya sejarah dan kearsipan serta mempersiapkan tenaga terampil dalam penulisan sejarah dan kearsipan,” kata Tangel.
Ditambahkannya, jadwal pelaksanaan kegiatan ini dari tangagl 10 – 14 Februari 2020 pukul 9.30 – 15.00 WITA di Kantor Sinopde GMIM Tomohon dengan pembagian jadwal per sesi.
Sementara itu, salah satu peserta Pdt. Hanni Londah STh dari Jemaat GMIM Schwarz Sentrum Langowan yang mengikuti workshop tersebut mengungkapkan bahwa ada manfaat yang sangat baik dalam kegiatan tersebut.
“Jemaat tempat saya melayani masih menyisahkan banyak sekali misteri sejarah zaman sang penginjil Johann Gottlieb Schwarz pertama kali masuk ke Langowan sekitar tahun 1831, mulai dari Buku Baptis, barang-barang milik pribadi, catatan peristiwa dan masih banyak lagi. Demikian juga dengan misionaris keduanya yaitu Pdt. Abraham Obesz Schaafma, Pdt. Meindert Brouwer dan yang lainnya,” ungkap Londah.
Ditambahkannya, dengan bekal materi-materi workshop, mudah-mudahan apa yang akan diupayakan dalam program kerja di jemaat akan berjalan dengan baik, khususnya yang berkaitan dengan kearsipan dan sejarah perkembangan jemaat dalam berbagai sudut pandang.
(Frangki Wullur)
