
Jakarta, BeritaManado.com – Alam punya caranya sendiri untuk berbicara kepada umat manusia dan tak jarang apa yang terjadi menjadi pengalaman pahit.
Bencana alam yang terjadi di Indonesia termasuk Sulawesi Utara di satu sisi bisa dipandang sebagai seuatu tragedi yang tak jarang merenggut nyawa manusia.
Namun di sisi lain ada jendela yang harus dibuka untuk melihat secara lebih luas penyebab suatu bencana alam terjadi.
Contohnya bencana banjir bandang di beberapa daerah di Indonesia, dimana akar masalahnya tidak akan jauh dari aksi-aksi oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan penebangan hutan dalam skala cukup besa sehingga membuat keseimbangan alam terganggu.
“Kita perlu membuka mata iman kita sebagai orang percaya. Tuhan telah memberikan alam semesta untuk kita jaga dan lestarikan. Namun yang terjadi justeru sebaliknya, dimana bencana dimana-mana,” kata Maya Rumantir.
Bahkan, kata Anggota Komite IV DPD RI ini yang terasa sangat menyedihkan yang menjadi korban dari suatu bencana paling banyak adalah orang-orang yang tidak bersalah.
“Tahun 2026 ini perlu ada suatu gerakan bersama seluruh komponen anak bangsa untuk melihat betapa bumi ini membutuhkan sentuhan tangan kita untuk memulihkan luka agar alam kembali akan menemukan keseimbangan ekosistem demi kebaikan umat manusia sendiri,” harapnya.
Maya Rumantir berharap juga upaya untuk memulihkan kondisi alam ini menjadi titik balik untuk menjadikan alam sebagai rumah bersama.
(Frangki Wullur)
