Opini

Sekapur Sirih Pelaut Nusa Utara

Sekapur Sirih Pelaut Nusa Utara
Annes Supit (Foto Beritamanado)

Oleh Annes Supit

GUGUSAN kepulauan nusa utara yang terletak dipaling ujung bibir pacifik banyak cerita-cerita klasik yang dialami para pelaut tangguh asal Sitaro.

Dijaman lalu banyak pemuda-pemuda Sitaro yang tertarik jadi pelaut, mereka yang pernah mengarungi samudra luas dengan satu misi suci yakni memberikan harapan bagi keluarga yang mereka tinggalkan, tidak jarang pelepasan mereka dari kampung selalu diawali dengan kebaktian dan syukuran sambil bermohon agar Tuhan memimpin langkah mereka ketika berada diperantauan.

Dari berbagai kisah para pelaut tangguh asal nusa utara Hendrik Jacobus lah salah satu pelaut yang sudah menembus enam samudra luas mulai dari samudra pacifik utara hingga selatan, samudra hindia atau jalur sutra yakni jalur lama yang pernah diarungi Vasco Da Gama kemudian samudra atlantik dan yang terakhir yakni Miedle east wilayah dari berbagai negara ditimur tengah. dari berbagai kisah dan perjalanan jauh, mereka telah menemui berbagai peradaban diberbagai belahan dunia.

Tanpa terasa sudah 29 tahun lebih Hendrik menjalani bekerja sebagai seorang pelaut dengan jabatan Captain dengan predikat Master Mariner sebagai prestasi terbesar dibidang kenavigatoran, Hendrik skarang diberikan kepercayaan membawa kapal Offshore jenis kapal yang melayani eksplorasi lepas pantai dengan 15 orang awak yang terdiri dari sebagian besar awak berkewarganegaraan indonesia dan pelaut-pelaut asing yang menjadi anak buah Hendrik selama dalam pelayaran. Menjadi seorang pelaut tidaklah muda banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari terjangan ombak, permasalahan pelabuhan, sikap

ABK yang kadang-kadang membangkang sampai pada tantangan iman, kalau kita tidak kuat menghadapi ini semua maka gagal lah kita menjadi seorang navigator ulung, semua harus dihadapi dengan sabar dan tenang serta bijaksana dan adil dalam menerapkan manejemen keselamatan pelayaran internasional atau disebut dengan ISM Code. Apakah rindu dengan keluarga dan kampung halaman, setidak-tidaknya itulah pertanyaan yang sering muncul.

Menurut Hendrik sangatlah jelas, siapapun pelaut pasti akan berbicara tentang keluarganya apalagi kampung halaman karena disanalah teman-teman seperjuangan menanti, kita bisa tukar pikiran dengan mereka dan masa depannya, kita juga peduli dengan nasib rakyat, yang saya tau mungkin mereka tidak tau sebaliknya mungkin apa yang mereka tau saya tidak tau, jadi kita sedikit membagi pengalamanlah dan memberikan informasi terbaik.

Ketika harus kembali ketanah kelahiran ada sedikit catatan yang dapat saya sampaikan, bahwa banyak sudah terjadi perubahan di Daerah saya Sitaro, kemajuan dibidang pembangunan secara signifikan sepertinya sudah mulai terasa dimana-mana diikuti dengan Globalisme dan Neo liberalis, ini yang perlu diwaspadai dan sebenarnya harus dipersiapkan sejak dini, ingat sepenggal tanah yang ada diSitaro harus dihitung, karena Sitaro adalah pulau berkat bagi semua orang.Sitaro juga adalah tanah adat, sebagai tanah adat kita wajib mengawalnya demi generasi anak cucu.

Saya tau Sitaro kita ini kaya, kaya sumber daya alam, kaya sumber laut, pertanian sampai pada mineral, itu semua adalah milik rakyat yang dipercayakan kepada pemerintah untuk mengolahnya dan ingat itu hanya untuk kesejahtraan rakyat tidak bisa digunakan oleh penguasa, kasihan rakyat kita sudah banyak yang menderita. Pesan saya bagi generasi anak cucu kita, marilah kita berhati Jerusalem dan Berotak Amerika agar kelak kita diberkati diTanah Kelahiran.(*)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara