Berita Utama

Masyarakat RI Jawara Screen Time, Ini Manfaat Detoks Digital yang Macet

Ketika seseorang berhasil menerapkan batasan digital, perubahan positif akan langsung terasa. Ria merasakan sendiri bagaimana detoks digital membantunya sampai bisa mengontrol fokusnya kembali.

Manfaat terbesar yang dia rasakan adalah kemampuan untuk bisa lebih fokus dengan “kenyataan”, mulai dari membangun kedekatan emosional dengan orang-orang di sekitar, menyelesaikan tugas-tugas nyata yang sempat tertunda, hingga kembali terkoneksi dengan diri sendiri.

Melepaskan kelekatan berlebih dengan dunia digital terbukti mampu menyehatkan kembali kondisi mental dan mengembalikan ketajaman fokus yang sempat hilang.

Sayangnya, pemahaman akan manfaat ini belum mampu membuat tren detoks digital melesat di Indonesia. Gerakan ini cenderung jalan di tempat karena besarnya tantangan internal maupun eksternal yang dihadapi para pelakunya.

Fijar mengamati bahwa banyak orang langsung mengalami kegagalan karena menetapkan target yang terlalu ekstrem di awal, seperti ingin langsung berhenti total padahal sebelumnya mereka adalah pengguna berat.

“Perubahan yang terlalu drastis ini justru membuat mental seseorang cepat menyerah. Jadi, lebih baik kurangin hal yang effort-nya besar, mulailah dari hal yang paling kecil. Perubahan kecil tapi konsisten itu lebih baik,” ujarnya.

Lebih lanjut Fijar menyebutkan, kesalahan taktis lainnya adalah ketiadaan aktivitas pengganti. Ketika waktu menatap layar dikurangi tanpa diisi oleh kegiatan lain yang menarik, rasa bosan yang menyergap akan secara otomatis menyeret seseorang kembali ke pola lama.

Selain faktor internal berupa rasa penasaran yang besar dan ketakutan akan tertinggal informasi atau FOMO (fear of missing out), faktor lingkungan sosiokultural di Indonesia juga memegang kendali besar.

Tuntutan dari teman, keluarga, hingga beban pekerjaan yang mengharuskan seseorang untuk selalu siaga dan online membuat upaya mengurangi gawai menjadi berkali-kali lipat lebih sulit.

Terlebih lagi, gawai sering kali sudah terlanjur bertransformasi menjadi mekanisme pelarian emosional instan saat seseorang dilanda stres atau masalah.

“Untuk mengatasinya, coba cari mekanisme koping yang jauh lebih sehat, seperti olahraga, beraktivitas, belajar mengelola stres, dan meregulasi emosi dengan baik,” ungkap Fijar.

Pada akhirnya, tolok ukur keberhasilan detoks digital ini tidaklah kaku dan sangat bergantung pada tujuan personal masing-masing individu.

Seperti yang ditekankan oleh Ria, jika tujuan awal kita adalah lepas dari kecanduan menggulir media sosial tanpa arah, maka keberhasilan itu tercapai ketika kita sudah mampu kembali bersosial media namun dengan kendali penuh untuk membatasi waktunya sendiri.

Detoks digital bukan tentang memusuhi kemajuan teknologi, melainkan sebuah upaya sadar untuk menempatkan kembali teknologi sebagai alat bantu kehidupan, bukan sebagai penguasa atas diri kita, ujar Ria.

Sumber: Kantor Berita Xinhua | Dipublikasikan atas kerja sama dengan BeritaManado.com.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara