
Manado – Anggota DPRD Sulut Dapil Bolmong, Raski Mokodompit kepada beritamanado mengatakan, dirinya akan bersama-sama memperjuangkan aspirasi warga bolmong demi terwujudnya pemekaran Provinsi Bolmong Raya (PBR).
“Sebagai warga Bolmong dan juga sebagai perwakilan dapil Bolmong akan bersama-sama warga berjuang untuk mewujudkan pemekaran tersebut,” ujar Mokodompit.
Dirinya juga optimis pembentukan Provinsi Bolmong Raya tidak akan berlangsung lama, mengingat kesiapan infrastruktur dan masyarakat tak diragukan lagi. (risat)

maaf pak rasky (“si tupoksi”) mo kawal bagemana kang?
kase jelas kw, jgn cm mo basuara padahal cm mo cari perhatian warga bolmong.
bolmong blm memenuhi syarat
Wacana Propinsi Bolaang Mongondow, dan Propinsi Sangihe Talaud mengemuka dan tidak sekedar wacana, karena ada penggiat, yang berjuang mewujudkannya.
Mengikuti keberhasilan Propinsi Gorontalo, kedua etnis Sulawesi Utara tersebut juga gigih memperjuangkan aspirasinya. Seharusnya muncul introspeksi “Tanya kenapa?”
Sejak lama Sulawesi Utara menjalin persatuan dengan slogan Bohusami, namun kemudian luntur dengan terbukanya otonomi daerah, dan disahkannya banyak pemekaran wilayah.
Menurut hemat kami, ada alasan tertentu suatu daerah menginginkan otonomi, dan hal itu lebih banyak kepada kebebasan untuk mengatur dan mengalokasikan sumber daya dan kekuasaan secara lebih efektif.
Suku Minahasa, boleh dikata sangat dominan di Sulawesi Utara, yang dapat mencakup dan merangkum suku-suku lainnya, sehingga aspek kekuasaan dapat dipegangnya dan aspek alokasi sumber daya.
Kekuasaan di Menado didominasi oleh Suku Minahasa, padahal perimbangan sumber daya dan jumlah penduduk relatif berimbang. Pembagian kekuasaan dijalankan dengan sistem sistem jatah kekuasaan yang tidak proporsional berdasarkan kesukuan.
memang kekuasaan menganut sistem partisan, bukan kesukuan, sehingga partai yang berkuasa bisa jadi didominasi oleh suku tertentu.
walaupun dalam konteks Indonesia modern, menganalisa berdasarkan kesukuan seharusnya perlahan ditinggalkan, tetapi dalam aspirasi yang berkaitan dengan pembagian kekayaan, kue ekonomi dan kekuasaan aspek tradisional yaitu asal usul suku memegang peranan.
Berkuasanya etnis Minahasa dalam politik dan pembagian kekayaan di antara etnis tersebutlah yang menjadi penyebab wacana pemekaran wilayah Bolmong dan Sanguhe Talaud menguat.
Sudah menjadi sifat orang Mongondow dan Sangihe Talaud bersifat mengalah atau merendah, namun tidak selamanya sekelompok manusia rela hidup di bawah penguasaan kelompok lain.
introspeksi seperti ini tidak pernah mengemuka mencari solusi di antara etnis Minahasa yang berkuasa, karena etnis tersebut secara terus menerus melanggengkan kuasa dalam sistem politik, demikian juga ekonomi.
Fakta ada Wakil Gubernur etnis Sangihe, atau sebelumnya banyak wakil Gubernur Etnis Mongondow, tidak akan mengobati ketimpangan dalam pembagian atau barter kekuasaan atau keadilan pembagian kue ekonomi.
Hal ini telah menjadi dasar Gorontalo menjadi propinsi mandiri, meski tak pernah muncul secara resmi.
Petunjuk yang lain, adalah secara religius Etnis Sangihe Talaud secara agama Kristen adalah satu pemahaman teologis dengan Gereja Masehi Injili Minahasa, sama-sama Gereja dengan teologia Reformed, sehingga persekutuan saling mengakui menjadi mudah.
Namun, agama sebagai pengaruh kepada mayoritas etnis Sangihe dan Minahasa, maka agama bisa menjadi “sarana aspirasi” yang diam-diam.
Ada semacam “konsensus” tak tertulis antara GMIST dan GMIM, bahwa saling nmengakui, yang berarti dimana wilayah GMIM, GMIST tak perlu mendirikan gereja, warga GMIST dilayani oleh GMIM, begitu sebaliknya.
Fakta bahwa ada beberapa anggota jemaat GMIM yang didominasi etnis Sangihe di Manado dan Bitung membangun Jemaat GMIST, secara nyata sudah melanggar “konsensus lama” tersebut. Dan hal ini harus dilihat dalam kaitan dengan “pengaruh etnis”, yang mirip terjadi dalam dunia [politik di atas.
Dengan mengandaikan bahwa orang2 Sangihe Talaud secara terbuka menyatakan diri kembali menjadi ANggota Jemaat GMIST dan mendirikan Gereja dimana-mana di Minahasa, maka kekuatan pengaruh politik akan mendapat tempat untuk bersatu, melalui sarana paling tradisional “agama”.
***
Hal-hal tersebut di atas menurut pengamatan kami tidak akan berhenti bergulir, dan dapat diantisipasi akan bermuara seperti Propinsi Gorontalo, kecuali etnis Minahasa menemukan suatu format baru untuk mengakomodasi dan lebih berbagi dengan saudara-saudaranya dari etnis Mongondow dan Sangihe Talaud.
Kecuali jika etnis Minahasa gagal berubah.