Dugaan kuat pun muncul bahwa perempuan yang disebut berusia sekitar 26 atau 27 tahun itu telah meninggal dunia.
Hingga Rabu, 25 Juni 2025, proses evakuasi masih berlangsung dengan sangat hati-hati.
Medan yang berbahaya dan cuaca yang kerap berubah membuat upaya pengevakuasian menjadi sangat sulit.
Gubernur NTB telah menyiapkan tiga helikopter untuk membantu evakuasi udara.
Namun, keterbatasan jarak pandang akibat kabut membuat helikopter belum dapat dikerahkan secara optimal.
Insiden ini segera menjadi perhatian Internasional, khususnya di negara asal korban, Brasil.
Netizen Brasil membanjiri media sosial Presiden RI Prabowo Subianto, menuntut percepatan evakuasi dan tindakan tanggap dari pemerintah Indonesia.
Beberapa bahkan melontarkan sumpah serapah dan
kritikan, menuding pemerintah Indonesia kurang tanggap.
Kejadian tragis ini juga memicu evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pendakian di Indonesia.
Banyak pihak menyoroti keputusan pemandu yang meninggalkan peserta pendakian sendirian dalam kondisi lelah.
Ini memunculkan wacana pentingnya peningkatan standar operasional keselamatan bagi pemandu wisata.
Diantaranya pengawasan ketat terhadap jumlah pendaki yang diizinkan, kelayakan fisik peserta, hingga persyaratan jumlah pemandu per kelompok.
Sebagai langkah tanggap darurat, jalur pendakian dari Pelawangan menuju puncak Rinjani resmi ditutup sementara demi memperlancar proses evakuasi dan
menjamin keselamatan tim SAR serta pendaki lainnya.
(Alfrits Semen)
