
Manado, BeritaManado.com — Ketua Umum Asperindo (Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia) periode 2025-2029, Budiyanto Darmastono, memberikan peringatan kepada seluruh anggotanya tentang bahaya perang harga.
Peringatan ini disampaikannya dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Asperindo Sulawesi Utara di Four Point by Sheraton Manado, Kamis, 28 Agustus 2025.
Budiyanto mengakui bahwa isu perang harga selalu ada di bisnis apa pun.
Namun, ia mengingatkan bahwa hal itu bisa sangat merusak.
“Kami mengimbau, marilah bersama-sama untuk bisa maju. Kalau kita perang harga, itu akan membunuh kita semua. Hanya mereka yang punya modal besar, yang berkuasa,” tegasnya.
Membidik Potensi Besar Sulut
Selain membahas isu internal, Budiyanto juga berbagi pandangannya tentang potensi besar Sulawesi Utara dalam industri pengiriman barang.
Menurutnya, keberadaan Pelabuhan Internasional Bitung menjadikan Sulut sebagai pusat distribusi utama untuk kawasan Indonesia Timur, baik untuk pengiriman domestik maupun internasional.
Ditambah lagi, dukungan dari Bandara Internasional Sam Ratulangi semakin memperkuat konektivitas udara untuk pengiriman yang lebih cepat.
“Sulawesi Utara mampu menjadi simbol penting dalam distribusi barang, menekan biaya logistik, serta memperluas akses perdagangan internasional ke pasar global,” ungkap Budiyanto.
Ia menambahkan, potensi bisnis logistik, termasuk di Sulut masih sangat tinggi.
Dengan banyaknya UMKM yang berkembang, para pelaku bisnis pengiriman bisa menikmati pertumbuhan tersebut.
Tantangan dari Luar dan Dalam
Budiyanto juga menyoroti tantangan yang harus dihadapi Asperindo.
Selain perang harga, ia mengingatkan agar para anggota juga melek terhadap perkembangan teknologi dan media sosial.
“Sebagai penyelenggara pos, anggota Asperindo harus bisa mengikuti perkembangan layanan dan teknologi yang ada saat ini agar dapat tumbuh maksimal,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan bisnis logistik secara global mencapai 20% setiap tahun.
Namun, tantangan besar datang dari masuknya bisnis logistik dari Tiongkok ke Indonesia.
“Dulu kita yang nomor satu, sekarang perusahaan e-commerce dari Tiongkok yang nomor satu,” katanya.
Meskipun demikian, Budiyanto yakin bahwa para anggota Asperindo dengan pengalaman yang mereka miliki bisa bersaing maksimal, bahkan berkolaborasi dengan e-commerce lain dari luar negeri.
