Menurut IAEA, Cina saat ini menempati peringkat ketiga dalam pembangkit listrik tenaga nuklir setelah Perancis dan Amerika Serikat, dan diperkirakan akan memimpin dunia dalam hal kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir terpasang pada tahun 2030.
Pelajaran Bagi Indonesia:
Sejarah mencatat bahwa BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) pernah membangun PLTN Generasi-IV tipe HTGR sebagai Reaktor Daya Eksperimental(RDE) saat Prof.Dr. Djarot Wisnubroto sebagai Kepala BATAN.
RDE ini terletak di Kawasan PUSPITEK, Serpong yang dikerjakan oleh para ahlinya putra Indonesia yang bekerja di BATAN.
Hasilnya telah menyelesaikan desain RDE tsb berkapasitas 10MW. Dalam upaya peningkatan dan pengembangan bagi penyelesaian pembangunan RDE ini, maka BATAN telah merintis kerjasama dengan Tsing Hua University untuk penelitian bersama pengembangan HTGR.
Dr. Muhammad Subekti, salah satu sosok inti dalam proyek RDE ini, dalam keterangan persnya pada 23 Nopember 2018, mengatakan bahwa kegiatan penelitian skala bersama/joint lab awalnya digagas oleh Pemerintah Cina dan Indonesia.
Kegiatan penelitian joint lab dapat dijadikan sebagai wadah kegiatan berbagi data dan penelitian bersama terkait dengan desain HTGR, pengembangan simulator, kajian pengembangan regulasi dan studi penelitian bersama. Implementasi kegiatan kerjasama ini diwujudkan dalam bentuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan pengembangan teknologi PLTN.
Kerja sama ini direncanakan pelaksanaannya hingga 3 tahun kedepan. Rancangan yang dihasilkan dari kegiatan bersama ini, merupakan peningkatan dari skala RDE yang berkapasitas 10MW menjadi skala yang lebih tinggi dayanya.
Peningkatan skala RDE menjadi lebih tinggi akan diperuntukan sebagai pembangkit listrik sekaligus dapat digunakan untuk keperluan industri seperti smelter, pabrik pupuk, pabrik pengolahan tanah jarang atau industri lainnya yang memanfaatkan panas dari proses reaktor nuklir. Disisi lain Dr. Geni Rina Sunaryo, mantan Kepala Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) BATAN, menjelaskan ada 3 target dari kegiatan joint lab tersebut, yakni peningkatan kapasitas SDM, mengakselerasi regulasi terkait HTGR dan membuat peta manufaktur terkait HTGR.
Hasil kerja kegiatan joint lab ini nantinya dapat dimanfaatkan kedua pihak paling tidak yang terkait dengan peningkatan kapasitas SDM. Prof.Dr. Djarot Wisnubroto juga mengatakan bahwa kerjasama joint lab memberi keuntungan bagi kedua pihak baik sisi rancangan, pembuatan perangkat lunak, regulasi dan manufaktur.
Dr. Djarot lanjut mengatakan kegiatan joint lab ini difokuskan kepada kegiatan pemngembangan HTGR terutama pada rancangan 150MWth. Dengan demikian kegiatan ini menjadi semacam penyiapan kelanjutan dari program pembangunan RDE yang berkapasitas 10MWth (keterangan 3 ahli nuklir diatas dikutip dari keterangan pers pada 22 Nopember 2018).
RDE tipe HTGR ini secara formal diprogramkan pada thn 2015-2019, walaupun sebelumnya sudah dimulai persiapan dan komunikasi dengan beberapa pihak. Namun sayang proyek ini berhenti pada tahun 2018.
Berbagai dugaan muncul yaitu berhenti karena alasan obyektif,, diberhentikan dengan sengaja/sepihak, disabotase, pesan sponsor, memuluskan proyek lain, dll.
Namun melihat perkembangan yang telah dicapai proyek RDE ini dan keberhasilan PLTN Cina Generasi ke-IV tipe HTGR, maka diharapkan Pemerintah dapat melanjutkan proyek tersebut. Apalagi sudah ada kerjasama dengan Cina melalui Tsing Hua University sebagai salah satu pihak yang ikut mengembangkan proyek HTGR Cina sebagai PLTN Generasi ke-IV yang saat ini sudah beroperasi secara komersial.
Jika Indonesia berhasil dengan proyek ini, maka kedepan bisa diatur kerjasamanya dalam bentuk Indonesia memproduksi reaktor nuklir tipe HTGR khas Indonesia dengan kapasitas kecil sebagai tahap awal, dan Cina memproduksi yang berkapasitas sedang dan besar.
Jika ini terjadi, maka Indonesia menjadi negara pertama di-Asia Tenggara yang mampu memproduksi reaktor nuklir Generasi-IV tipe HTGR, khas buatan Indonesia.
Untuk mewujudkan hal ini, maka ada desakan sementara pihak, agar BATAN dihidupkan kembali, dipisahkan dari BRIN (BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL), karena ada kesan selama ini tidak ada kemajuan yang berarti yang dikerjakan BRIN dalam program nuklir untuk tujuan damai.
JAKARTA, 29 PEBRUARI. 2024.
DRS. MARKUS WAURAN
WAKIL KETUA DEWAN PENDIRI HIMNI.
