
Manado, BeritaManado.com — Dosen Kepemiluan Universitas Sam Ratulangi, Ferry Liando memberikan catatan dalam debat kandidat Pilgub Sulut pertama.
Menurut Ferry Liando, debat 5 November 2020 belum memberikan dampak elektoral.
Padahal kata Liando, anggaran APBD yang digunakan KPU Sulut tidak sedikit.
“Harusnya memberi keuntungan bagi masyarakat. Jika jawaban kandidat sifatnya normatif, sulit bagi publik menentukan sikap politik dari debat itu,” katanya.
Ia menilai tidak semua pasangan calon menguasai materi di debat pertama.
Jawaban yang disampaikan kata Liando, kerap tidak relevan dengan pertanyaan, baik dari ahli atau lawan debat.
“Yang mengherankan, nyaris tidak ada jawaban beda. Apa yang disampaikan pasangan lain, itu juga dipaparkan calon lain. Terkesan copy paste,” tegasnya.
Menurutnya, visi-misi dan program yang sama, akan menyulitkan masyarakat memilih calon pemimpinnya.
“Saya berharap skenario debat di rombak total terutama performa dari paslon tertentu. Debat harus diisi kajian identifikasi masalah publik. Kemudian jika terpilih, apa inovasi yang dikembangkan untuk menyelesaikan masalah itu,” sarannya.
Dikatakan, cara menyelesaikan bukan sekadar meniru kebijakan pemerintah pusat, namun perlu kreasi baru.
Sebab kata Liando, yang menjadi kebijakan pusat, belum tentu relevan dengan daerah.
Selain itu, tambah dia, materi khotbah dan kontes jenaka sebaiknya dihilangkan.
Pasalnya, hasil debat berkorelasi dengan tingkat partispasi masyarakat.
“Jika debat memberikan peluang dan kepastian, rakyat akan berbondong-bondong datang memilih. Tapi kalau datar, normatif dan saling copypaste semangat masyarakat ke TPS bisa menurun,” tandasnya.
(Alfrits Semen)
