COVID19

Petani Muda Sangihe Bertahan di Masa Pandemi

Petani Muda Sangihe Bertahan di Masa Pandemi
Petani muda di Kampung Malamenggu dan Bira Kepulauan Sangihe. (Foto: Rendy)

Sangihe, BeritaManado.com – Hingga hari ini penyebaran Covid-19 masih menjadi persoalan yang belum juga usai.

Grafik kenambahan infeksi terus bertambah setiap harinya.

Meski begitu kondisi ini mengharuskan masyarakat untuk terus produktif menjalankan kehidupannya dengan penyesuaian diri sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan WHO.

Banyak sektor memang terpukul tak terkecuali petani di Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara.

Akan tetapi kondisi penyebaran Covid-19 di Kepulauan Sangihe tentu belum masuk pada fase yang memprihatinkan seperti jumlah infeksi di daerah lainnya.

Oleh karena itu aktivitas petani memang masih tergolong seperti biasa.

Dalam artian mereka tetap produktif walau ada beberapa hal yang menjadi tantangan di tengah pandemi, seperti harga pasar yang cenderung tidak stabil.

Kamis (15/10/2020), Muslin Mirontoneng, pemuda berusia 28 tahun sebagai koordinator Petani Muda Kepulauan Sangihe, menceritakan pengalaman mereka.

Dalam komunitas petani muda ini, ada kurang lebih 14 kelompok tani yang produktif hingga hari ini.

Muslin bercerita bahwa persoalan pandemi Covid-19 memang belum terlalu berdampak pada kegiatan bertani, meski begitu dampak secara nyata adalah persoalan harga pasar yang membuat mereka kadang harus membuat strategi-strategi khusus guna menyelamatkan hasil produksi pertanian.

“Untuk kegiatan menanam kami masih aman dan belum terpengaruh. Tetapi beberapa bulan terakhir ini persoalannya ada pada harga sedikit menurut. Seperti halnya baru-baru ini harga cabe menyentuh 25 ribu per kilo, tomat, 4 ribu hingga 3 ribu. Ini harga di petani. Tapi untuk satu minggu terakhir ini, harga cabe sudah mulai naik ke angka 50 ribu dan tomat 9 ribu,” ungkap Muslin.

Menurut Muslin, persoalan harga ini sebenarnya karena kurangnya jumlah pembeli secara langsung yang datang ke pasar.

Hal demikian menurutnya kerena orang-orang masih menyesuaikan diri dengan social distancing, atau ada juga semacam ketakutan untuk ke pasar.

“Pembelian bukan menurun sebenarnya. Ini karena kekurangan pembeli akhirnya dampaknya di ekonomi. Orang-orang yang mau ke pasar yang ketakutan, akhirnya harga anjlok. Kalau dulu kan banyak orang membeli karena banyak orang buat pesta,” kata dia.

Tak hanya itu bantuan pemerintah bagi petani juga berkurang dibanding dengan tahun tahun sebelumnya.

Muslin mengatakan bahwa mereka mendapatkan bantuan pertanian berupa bantuan stimulan.

Akan tetapi ungkapnya ada bantuan personal pengurusan kartu Pra Kerja dan BPJS Tenaga Kerja untuk Petani dari Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kepulauan Sangihe.

“Memang ada beberapa yang kami urus secara personal, baru-baru ini kami komunitas diminta untuk Kartu Pra Kerja dengan BPJS Tenaga Kerja. Yang hari ini sementara kami lengkapi,” kata dia.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara