
Penulis: Sri Surya | Manado
Satu dari tujuh warga Sulawesi Utara (Sulut) kini berusia di atas 60 tahun. Sementara itu, angka kelahiran terus merosot, bahkan sudah jatuh di bawah batas normal penggantian generasi.
Inilah gambaran nyata yang terungkap dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis BPS Sulut, Selasa (5/5/2026).
“Hasil SUPAS 2025 menunjukkan bahwa Sulawesi Utara sedang mengalami transisi demografi yang ditandai dengan perlambatan pertumbuhan penduduk, penurunan fertilitas, serta peningkatan proporsi penduduk lanjut usia,” kata Kepala BPS Sulut, Dr. Watekhi.
Ini bukan sekadar angka statistik. Ini sinyal yang menuntut respons kebijakan nyata.
Pertumbuhan Penduduk Sulut Melambat, Beban Warga Produktif Makin Berat
Laju pertumbuhan penduduk Sulut periode 2020–2025 tercatat 0,79 persen per tahun, lebih rendah dibanding periode 2010–2020. Tren perlambatan ini berjalan konsisten.
Struktur usia masih didominasi kelompok produktif: sekitar 66,14 persen penduduk adalah Generasi Z, milenial, dan post-Gen Z. Namun beban yang mereka tanggung semakin berat.
Rasio ketergantungan naik ke angka 45,95 pada 2025, meningkat dari hasil Sensus Penduduk 2020. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 orang yang tidak produktif secara ekonomi.
Proporsi lansia (60 tahun ke atas) kini mencapai 14,12 persen, naik dari 12,19 persen pada 2020 dan jauh melampaui ambang batas ageing population sebesar 10 persen.
Kabupaten Minahasa menjadi wilayah dengan lansia terbanyak: 17,65 persen.
“Kondisi ini menandakan perlunya kebijakan yang lebih ramah lansia, baik dari sisi kesehatan, perlindungan sosial, maupun ekonomi,” ujar Watekhi.
TFR Sulut Jatuh ke 2,07 – Angka Kelahiran di Bawah Batas Normal
Angka fertilitas total (TFR) Sulut turun ke 2,07, menembus batas replacement level 2,10. Penurunan ini dipicu berkurangnya kelahiran pada dua kelompok usia, 15–19 tahun dan 25–29 tahun.
Dari sisi kematian bayi, ada kabar baik. Angka Kematian Bayi (IMR) turun menjadi 15,75 per 1.000 kelahiran hidup.
Namun kesenjangan antarwilayah masih mencolok: IMR Kota Manado hanya 11,70, sementara Bolaang Mongondow Selatan mencatat 23,44 tertinggi di Sulut.
Mobilitas penduduk juga bergerak aktif. Bolaang Mongondow Selatan tercatat sebagai daerah dengan migrasi keluar tertinggi, baik seumur hidup maupun dalam lima tahun terakhir.
Data pelengkap SUPAS 2025: prevalensi disabilitas usia 5 tahun ke atas sebesar 2,18 persen, dengan kesulitan utama pada aktivitas berjalan dan naik tangga.
Hampir seluruh warga mampu berbahasa Indonesia, namun 89,40 persen masih menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari.
BPS menegaskan data SUPAS 2025 menjadi fondasi perencanaan pembangunan, termasuk mendukung target RPJMN dan SDGs.
