Aset terbesar dari Amerika adalah pengetahuan.
Cina mengerti itu dengan sempurna.
Mungkin kita terkesima dengan pembangunan Cina yang cepat, tetapi kita lupa bahwa mereka belajar dari Amerika! Mereka sangat ambisius mengejar dan menguasai pengetahuan dari Amerika. Bahkan sampai melakukan penguasaan IPTEK dari Amerika secara tidak legal.
Saat ini saja ada lebih dari 370 ribu mahasiswa Cina di Amerika dibanding hanya 8,3 ribu mahasiswa Indonesia. Kita masih kalah dengan Vietnam (24 ribu). Jumlah mahasiswa pasca sarjana kita di AS jauh lebih kecil lagi.
Ambisius IPTEK
Bila kita tidak melakukan gerakan reformasi serius ala Meiji Restorasi, saya kuatir kita akan tetap selangkah atau dua langkah di belakang. Kemajuan adalah produk budaya. Sayangnya paradigma ini seperti terabaikan atau dianggap inferior karena euforia teknologi informasi dan Industri 4.0.
Semua lini di tengah masyarakat dan negara kita harus mengedepankan paradigma budaya yang haus akan ilmu dan pengetahuan dan ambisi kuat untuk menguasainya dalam membangun bangsa. Dana tentu penting, tetapi salah menggunakan dana, hasilnya bisa tragis.
Salah menggunakan paradigma dan mengalokasikan dana yang tepat, niscaya kita akan stagnan.
Kemunduran bila menganggap kemajuan pada dasarnya produk keterampilan. Atau lebih buruk lagi, produk medsos.
Saya kuatir, budaya dan ambisi kuat akan penguasaan pengejaran dan penguasaan IPTEK ini bisa tenggelam di tengah pandemi Covid.
Dari aspek pendidikan umum saja, bila sampai 2-3 tiga tahun pendidikan kita morat marit gara-gara Covid, kita bisa mundur atau tertinggal sedikitnya 1 atau 2 dekade.
Karena itu, pemerintah pusat dan daerah harus menjaga keseimbangan antara pendidikan yang serius dan penanganan Covid.
Negara maju seperti AS yang sudah memiliki infrastruktur dan fasilitas telekomunikasi yang sangat memadai untuk setiap pelajar. Tetapi baik pelajar maupun mahasiswa masih tetap kesulitan dengan pendidikan daring.
Sebagai pengajar di universitas di AS lebih dua dekade, saya sudah melihat bahwa pendidikan daring kurang lebih sama dengan online dating (kencan online). Semu.
Kita tidak mau masa depan Indonesia di bangun di atas pengetahuan yang semu atau penguasaan IPTEK yang seolah-olah.
Membaca esai konstruktif tetapi sedikit panjang orang sudah malas. Mereka hanya mau membaca satu dua kalimat.
Hidup kita banyak tersita membaca pesan-pesan di media sosial. Membaca buku menarik dan membuka wawasan sudah seperti tabu dan menganggap pemborosan waktu.
Bagaimana bisa menguasai IPTEK?
Dunia medsos dan virtual bisa seperti busa. Kehidupan yang dibangun di atas busa tidak punya pondasi kuat. Bisa hilang dalam sekejab begitu saja.
