Berita Utama

OLLY DONDOKAMBEY, Sang Ketum dan Silent Politician

Setidaknya ada 90 gereja bernaung dalam paguyuban tersebut yang bernama Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja Indonesia (FK-PKB PGI). Sang Ketum telah memimpin FK-PKB PGI selama 8 tahun sejak dilantik tahun 2018.

Bagi Sang Ketum, FK-PKB PGI adalah organisasi gereja yang menjadi tulang punggung pembangunan spiritual keluarga Kristen. Bapak adalah imam dan nahkoda keluarga, sehingga pembangunan spiritual melalui ketaatan dan beribadah kepada Tuhan adalah hal wajib.

Temmy Lengkong, salah satu pengurus FK-PKB PGI, mengatakan Sang Ketum selalu menyebut bahwa Gereja adalah Rumah Keluarga, Ecclesia domestica.

Ia selalu mendorong kaum bapak untuk rajin beribadah dalam persekutuan gereja di mana pun dia berada. Sang Ketum berharap anggota FK-PKB PGI selalu bersinergi dengan pemerintah pusat dan provinsi setempat dalam kebijakan membangun kesejahteraan masyarakat.

“Tunduk kepada pemerintah adalah perintah Injil,” katanya.

Itulah sebabnya Sang Ketum meminta anggotanya untuk tidak berpolitik praktis atau membawa organisasi FK-PKB PGI terseret arus politik yang saling menyerang.

“Kita doakan bangsa ini dari segala persoalan agar pemerintah dapat bekerja mensejahterakan rakyat,” katanya.

Pembangunan spiritual terus digelorakan di kalangan kaum bapak dalam setiap pertemuan FK-PKB PGI dalam Konsultasi Nasional (Konas). Saat Konas di Maluku Utara tahun lalu, salah satu program konkret yakni program 1821 mengenai penggunaan android di keluarga terutama anak-anak pada periode jam 18.00 hingga 21.00.

Pada periode ini setiap bapak diharapkan memberi contoh untuk tidak menggunakan android selama tiga jam, sebagai waktu keluarga dan waktu belajar anak.

Evaluasi mengenai program ini telah memengaruhi kehidupan setiap keluarga Kristen di Tanah Air. Anak-anak tumbuh dan berkembang positif.

Keseharian Sang Ketum yang sederhana, berkomunikasi dengan orang tanpa pandang bulu, setelah melepas jabatan Gubernur Sulut tidak membuat beliau jauh dari gereja.

Sang Ketum tetap semangat untuk memberi sumbangsih dalam pelayanan. Ia terus membantu umat melalui pembangunan fisik gereja. Tak terhitung berapa banyak rupiah diberikan kepada gereja.

Sebuah bantuan materi monumental diberikan kepada jemaat GMIM Paulus Titiwungen yang berada di titik sentral Kota Manado.

Gereja ini dibangun baru, empat lantai, dengan anggaran sekitar Rp27 miliar.

Seorang pengurus gereja GMIM Paulus Titiwungen, Edos Kerap, sangat berterima kasih atas bantuan Sang Ketum.

Sanny Parengkuan, mantan anggota jemaat GMIM Paulus Titiwungen, mengatakan pembangunan fisik gereja terus gagal selama 15 tahun, bahkan dua orang ketua panitia telah meninggal, gereja tidak terbangun.

“Rencana pembangunan gereja ini sudah ada sejak tahun 2000, tapi tidak pernah selesai,” katanya.

Untuk urusan gereja, Sang Ketum pernah punya pengalaman indah saat berkomitmen membangun sebuah gereja di Jakarta.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara