
Menteri Agama Nasaruddin Umar kembali menjadi sorotan publik lewat pernyataan kontroversial soal zakat yang ia sebut “tidak populer” di zaman Nabi Muhammad SAW. Melansir Suara.com jaringan BeritaManado.com, ini bukan kali pertama Menag Nasaruddin harus meminta maaf atas ucapannya yang memantik polemik.
Nasaruddin Umar: Guru Jangan Cari Uang
Kontroversi pertama muncul jelang setahun masa jabatannya. Sebuah potongan video yang beredar luas memperlihatkan Nasaruddin Umar menyatakan bahwa guru tidak seharusnya mengejar materi.
“Kalau mau cari uang, jangan jadi guru. Jadi pedaganglah,” ujarnya pada September 2025.
Pernyataan itu menuai kritik keras dari kalangan pendidik.
Tak lama berselang, Nasaruddin meluruskan maksudnya. Baca selengkapnya: Menag Nasaruddin Umar minta maaf soal pernyataannya tentang guru.
“Justru sebaliknya, saya ingin menegaskan bahwa guru adalah profesi yang sangat mulia seperti yang saya sampaikan,” terangnya saat meminta maaf.
Kontroversi Kekerasan Seksual di Pesantren
Hanya sebulan setelah permintaan maaf pertama, Menag Nasaruddin kembali tersandung kontroversi.
Kali ini soal maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren.
Ia menilai kasus tersebut terlalu dibesar-besarkan.
“Jangan sampai hanya karena segelintir oknum, nama besar pesantren yang telah berjasa bagi bangsa ini tercoreng,” tuturnya kala itu.
Pernyataan itu langsung menuai respons dari berbagai pihak, termasuk komedian dan aktivis Pandji Pragiwaksono.
“Sebanyak 36 persen (kasus kekerasan di lingkungan pendidikan) terjadi di lingkungan berbasis agama seperti pesantren,” beber Pandji.
Dalam klarifikasinya, Nasaruddin menegaskan bahwa ia semata ingin melindungi reputasi pesantren.
“Jangan sampai perjuangan para kiai dan santri yang sudah ratusan tahun membangun pesantren menjadi rusak karena hal itu,” jelasnya.
Pernyataan Kontroversial Nasaruddin Umar soal Zakat
Kontroversi terbaru datang ketika Nasaruddin Umar menyinggung posisi zakat dalam sejarah Islam.
Ia menyatakan bahwa zakat justru tidak populer di masa Nabi dan para sahabat.
“Quran juga tidak mempopulerkan zakat. Pada zaman Nabi, zakat itu nggak populer. Pada masa sahabat juga nggak populer. Yang populer apa? Sedekah,” bebernya.
Pernyataan itu kembali memantik kecaman luas.
