
Tombatu – Wacana perbaikan jalan penghubung Desa Pisa ke pusat Kecamatan Tombatu, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) sejauh 800 meter hingga kini masih menjadi misteri.
Arus utama Desa Pisa ini yang rusak parah dan sulit dilalui terus menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Aspirasi demi aspirasi telah disampaikan dan disambut beribu janji yang ternyata hanya menjadi ‘surga telinga’ bagi masyarakat.
Rintihan suara hati masyarakat pun terus menyeruak lewat postingan demi postingan di media sosial yang berharap aspirasi mereka didengar dan diperjuangkan.
“Sebagai masyarakat kami berupaya menjalankan kewajiban dan mendukung program yang ada. Bertahun-tahun pula kami bersabar dengan situasi dan kondisi ini dengan harapan ada kepekaan serta rasa iba dari mereka (Wakil Rakyat,red) yang akan meneruskan aspirasi kami,” ungkap Tokoh Pemudi Desa Pisa, K.K.Poluan, Selasa (23/11/2021).
Di tengah refocusing anggaran di masa pandemi COVID-19, harapan akan kejelasan pembangunan yang sementara berjalan dinantikan.
“Kami tidak sok pintar dan tidak bermaksud menjatuhkan pemerintah, hanya menyampaikan aspirasi kami, kiranya dapat diperhatikan dan ditindaklanjuti,” tandasnya.
Tak Ada Rotan Akar pun Jadi

Pepatah ini mungkin yang paling tepat menggambarkan situasi yang terjadi di Desa Pisa.
Tilik saja pada Senin 22 November 2021 kemarin, seakan tak mau berpasrah diri, pemerintah desa dan masyarakat memutar otak untuk mencoba meminimalisir masalah akibat jalan yang rusak.
Hanya di dasari oleh swadaya dan sumbangsih dari masyarakat, kerja bakti umum yang juga melibatkan para pengguna jalan dilakukan.
“Kalo Torang nda mo perbaiki ni jalang, torang pe pembangunan di Desa Pisa mo tahambat karna sopir-sopir yang bawa material so mengeluh dengan jalan so lebe rusak,” katanya.
Aksi solidaritas berlandaskan semangat gotong royong ini dilakukan, sebab menurutnya, kendaraan terkadang tidak mampu melewati tanjakan karena jalan licin, apalagi sekarang kondisi cuaca sering hujan.
“Dukung baku dukung dan bantu baku bantu tetap torang jaga karna torang mahluk sosial. Ke depan kalo terealisasi, perkembangan Desa Pisa akan lebih maju, Minahasa Tenggara semakin Hebat,” pungkasnya.
Sementara salah satu pengguna jalan, Luther Rondonuwu, mengapresiasi kebijakan dan langkah pemerintah serta masyarakat Desa Pisa bersama para pengguna jalan yang terpanggil melaksanakan kerja bakti di Perkebunan Dasoloy.
“Harapan kami kiranya jalan penghubung antara Kecamatan Tombatu dan Desa Pisa dapat diperhatikan,” tutur petani muda asal Tombatu.
Di lain pihak, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat Mitra, Rommy Ole mengatakan, kondisi jalan tersebut memang menjadi perhatian.
Walau demikian, masyarakat tampaknya harus tetap bersabar sebab hal tersebut mungkin belum bisa terwujud karena keterbatasan anggaran.
“Untuk pembangunan ini belum tertata di tahun anggaran 2022, tapi kita lihat nanti di perubahan APBD. Mudah-mudahan jika ada penambahan alokasi dana bantuan baru, bisa kita anggarkan,” katanya.
