Manado – Minimnya berbagai industri kerajinan di Sulawesi Utara mengindikasikan kurangnya dukungan terhadap Sulut sebagai daerah destinasi wisata.
Hal inipun diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Sulut Jenny Karouw kepada beritamanado.com Selasa (3/10/2017).
Sebagai salah satu contoh misalnya, meski sudah dibukanya salah satu tempat pusat industri seperti Jendela Dunia di Bandara Sam Ratulangi, namun belum sesuai harapan.
“Itu sedikit yang memanfaatkan karena memang produk UKM -IKM di Sulut sembilan puluh persennya bergerak pada pengelolaan pangan seperti pembuatan kue keripik, abon cakalang, roa, klapertart, cakalang fufu, yah seperti itu,” ujar Jenny Karouw.
Selain itu, budaya masyarakat di Sulut turut berperan kurang berkembangnya industri pengolahan kerajinan di daerah ini karena sebagian besar masyarakat lebih mengandalkan usaha produk-produk bahan mentah seperti cengkeh dan kelapa.
“Karena itu memerlukan keuletan, ketelatenan, karena budaya kita terbiasa misalnya petik langsung jadi doi (uang) seperti petik cengkeh, kelapa, ambil ikan langsung dijual dan dapat uang,” beber Jenny Karouw kepada beritamanado.com.
Hal tersebut berbeda seperti di Bali dan Jokja yang banyak mengandalkan industri kerajinan.
Dia menambahkan, industri pengolahan kerajinan di Sulut memang ada namun jumlahnya sedikit, meskipun ada, hal itu masih bersifat industri rumahan yang produknya terbilang kecil karena masih dibatasi dengan modal dan tenaga kerja yang minim.
Meski begitu menurut Jenny Karouw, Disperindag terus berusaha mendorong minat masyarakat agar UKM -IKM khususnya untuk kerajinan terus berkembang. Salah satunya adalah memberikan pembinaan dan pelatihan-pelatihan teknis ke UKM-IKM dan dengan bantuan Koperasi untuk menunjang akses modal usaha ke perbankan secara terintegrasi. (rizath polii)
