Tak sampai disitu saja, dimana sore harinya kami pun disuguhkan amu goreng dan kue Betawi ditemani teh hangat manis.
Ketika kembali ke Pulau Para, kami hiking ke tempat yang konon keramat, dimana ada pohon Kamboja yang sudah berusia ratusan tahun dan keramik serta uang logam Portugis.
Kenapa uang Portugis, karena konon pulau ini ditemukan oleh Beatrix yang berkebangsaan Portugis pada tahun 1673.
Juga konon, Presiden Soekarno pernah mampir disini.

Kami sempat berfoto dari ketinggian disini dan melayangkan pandangan ke bawah dengan pemandangan laut di sekitar Pulau Para yang masih virgin. Bagi saya, trip 3 hari 2 malam bersama sahabat masa kecil sungguh sesuatu yang ‘luxurious’.
Semua kami (Cindy Winata, Atika Winata, Sjeny Tampone, Merry Karouwan) dapatkan mulai dari kapal yang nyaman, makanan yang lezat, homestay bersih, laut yang ‘tidak biasa’, penduduk yang ramah (tidak ditemukan covid disini), alam bebas polusi (tidak ada kendaraan disini), ibadah pagi rutin setiap hari dirumah penduduk (kecuali Minggu). Terima kasih Pulau Para, hedosau musombang, sampe bakudapa.
Sebelum pulang, pijatan Mbau Dick dan sayur bunga pepaya dicampur kelapa muda berhasil membuat tertidur dan dibangunkan untuk menikmati sagu campur kelapa muda dan kakap merah.
Dan akhirnya kami harus bergegas untuk kembali ke Manado dengan Speedboat yang sudah disiapkan lewat Siau.
(***/Frangki Wullur)
