Kota Manado

Merga Silima Manado Bagikan Takjil Kue Tradisional Cucur dan Cimpa, Simbol Persaudaraan Minahasa–Karo

Merga Silima Manado Bagikan Takjil Kue Tradisional Cucur dan Cimpa, Simbol Persaudaraan Minahasa–Karo

Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum kebersamaan lintas budaya di Manado. Rukun Karo Merga Silima Manado membagikan takjil berupa kue tradisional Cucur khas Minahasa dan Cimpa khas suku Karo kepada warga Merga Silima yang menjalankan ibadah puasa di Sulawesi Utara.

Kegiatan berbagi takjil ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian kepada umat Muslim yang sedang berpuasa, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan dalam keluarga besar Merga Silima di Manado. Tradisi ini bahkan telah dilaksanakan secara rutin selama tiga tahun terakhir setiap bulan Ramadan.

Pembina dan penasehat rukun, Ester br Tarigan, mengapresiasi kegiatan pembagian takjil tersebut. Menurutnya, kebersamaan dalam keluarga Merga Silima harus terus dijaga dan dirawat.

“Momen bulan puasa ini patut kita syukuri bersama saudara-saudara kita dalam kerukunan Merga Silima Manado Sulawesi Utara. Kegiatan ini sudah kita lakukan selama tiga tahun setiap bulan puasa,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Yunita br Perangin-angin yang mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Dengan penuh ceria dan suasana kekeluargaan, ia menerima takjil berupa cucur, cimpa, serta nasi jaha.

“Kalau dalam bahasa Karo, nasi jaha disebut Rires,” katanya sambil tersenyum. Ia menambahkan, kebersamaan dalam keluarga Merga Silima Manado Sulut terasa sangat bermakna di bulan puasa ini.

Arief Arianto bersama istrinya, Br Tarigan, juga menyampaikan rasa terima kasih atas pembagian takjil tersebut. Mereka menikmati cucur dan cimpa saat berbuka puasa dengan penuh sukacita.

Ketua Merga Silima Manado-Sulawesi Utara, Salmon Tarigan, menjelaskan bahwa kue cucur yang terbuat dari tepung beras dan gula aren mencerminkan kearifan lokal yang memadukan rasa manis dengan nilai-nilai kehidupan.

Menurutnya, kue cucur melambangkan kedewasaan dan hampir selalu hadir dalam berbagai hajatan dalam tradisi budaya Minahasa. Filosofi ini dinilai kuat dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.

“Makna filosofi itu yang ingin kita ambil dalam pembagian takjil kali ini,” jelasnya.

Sementara itu, kue Cimpa Karo merupakan kue tradisional khas suku Karo di Sumatera Utara. Cimpa dibuat dari campuran tepung beras ketan, parutan kelapa, dan gula merah, kemudian dibungkus dengan daun singkut atau daun pisang sebelum dikukus.

Kudapan ini memiliki cita rasa manis gurih dengan tekstur legit. Cimpa juga menjadi makanan wajib dalam berbagai pesta adat Karo seperti kerja tahun serta menjadi simbol warisan budaya masyarakat Karo.

Biasanya cimpa dibungkus dengan daun singkut (marasi) yang aromatik, memberikan aroma khas yang lebih harum dibandingkan daun pisang.

Kedua kue tradisional ini, cimpa dan cucur, memiliki bahan pembuatan yang hampir serupa dan menjadi ciri khas daerah masing-masing, yakni suku Minahasa dan suku Karo.

Perpaduan kedua kudapan ini dalam takjil Ramadan menjadi pengingat akan tanah kelahiran masyarakat Karo sekaligus memperkuat kebersamaan dengan budaya Minahasa di tanah Sulawesi Utara.

“Selamat menjalankan ibadah puasa bagi saudara-saudara kami semua,” tutup Salmon Tarigan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara