
Oleh: Soni Sumarsono
KONTESTASI pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Provinsi Sulawesi Utara, saya perkirakan berlangsung lancar dan aman.
Selayaknya sebuah hajatan, pesta demokrasi di provinsi yang dikenal dengan Bumi Nyiur Melambai ini, hampir tidak ada alasan akan alot, rusuh, dan saling menyerang antar pasangan calon (Paslon).
Setiap pendukungnya, saya menduga, tak akan tampil dengan cara-cara merusak (destruktif). Semisal melakukan kampanye hitam.
Setidaknya ada 5 (lima) alasan atas keyakinan saya Pilkada Serentak 2020 akan sukses dengan damai.
Analisa ini berdasarkan pengalaman saya sebagai Penjabat Gubernur Sulawesi Utara (2015/2016), yang mengantarkan pasangan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw (ODSK) terpilih sebagai Gubernur/Wakil Gubernur dari daerah yang rakyatnya murah senyum.
The Smilling People.
Kebetulan pula kini, keduanya maju lagi (sebagai petahana) dalam Pilkada 9 Desember 2020 mendatang.
Lima alasan yang saya maksudkan adalah:
Satu, Indeks Demokrasi Sulawesi Utara termasuk sangat tinggi, sebagai indikasi kedewasaan masyaratnya dalam berdemokrasi (baca: berbeda pendapat, berbeda pilihan).
Menang atau kalah, dipahami oleh masyarakat Sulawesi Utara yang memiliki tingkat intelektualitas tinggi, sebagai hal biasa.
Sebagaimana pertandingsn bulu tangkis “lawan bertanding adalah teman bermain”.
Kedua, masyarakat Sulawesi Utara pada umumnya sangat menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan memiliki spiritualitas yang kuat.
Bahwa apapun yang terjadi adalah rancangan dan kehendak terbaik dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Motto populer “Kita Samua Basudara, Kita Samua Ciptaan Tuhan” sangat menjiwai aliran darah dan nafas yang menghembuskan hawa damai di daerah destinasi wisata internasional ini.
Apapun suku, agama, ras, dan latar belakang seseorang, di Sulawesi Utara, semua dianggap saudara.
Saya merasakan ini selama enam bulan menjadi Pjs Gubernur Sulawesi Utara.
Walaupun suku dan agama saya berbeda, tetap mendapatkan tempat terbaik di hati masyarakat.
