Ragam

Tak Hanya Puasa, Kemenkes Ingatkan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak Selama Ramadan

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Siti Nadia Tarmizi. [Suara.com/Dini Afrianti]
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Siti Nadia Tarmizi. [Suara.com/Dini Afrianti]

Ramadan tidak hanya menjadi momen menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan membentuk pola hidup lebih sehat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan bulan puasa dengan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) dalam makanan sehari-hari.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kebiasaan sederhana seperti mengurangi gula dalam minuman saat berbuka puasa dapat membantu membentuk pola hidup sehat dan menurunkan risiko obesitas.

Ia mencontohkan penurunkan konsumsi gula bisa dilatih dengan takaran saat minum teh saat buka puasa selama sebulan penuh.

“Kalau biasanya kita minum teh sebelum Ramadan itu satu sendok teh gula, selama bulan Ramadan, kan katanya kalau bulan ramadan berbuka dengan yang manis-manis. Bisa nggak kita sekarang minum tehnya seperempat aja gula pasirnya sebulan.” ujar dr. Nadia dalam acara peringatan Hari Obesitas Sedunia di Jakarta pada 4 Maret 2026 lalu, melansir Suara.com jaringan BeritaManado.com.

Menurut dr. Nadia jika latihan ini dilakukan secara rutin selama bulan Ramadan, maka akan membentuk satu kebiasaan baru di akhir bulan.

Apalagi ada teori yang mengatakan jika kebiasaan baru bisa dibentuk dalam waktu 21 hari atau 3 minggu.

“Pasti nanti di ujung-ujung ramadan, kalau gulanya dikasih satu sendok teh penuh pasti kemanisan,” lanjut dr. Nadia.

Kurangi Gula, Garam, dan Lemak saat Puasa

*

Tidak hanya gula, dr. Nadia juga menyarankan latihan pengurangan ini juga berlaku terhadap garam dan lemak.

Menurutnya, langkah sederhana ini bisa membantu menekan angka obesitas nasional yang masih menunjukkan tren peningkatan.

Data Kemenkes menyebutkan angka obesitas naik dari 21,8 persen pada tahun 2018 menjadi 23,4 persen pada tahun 2023.

Obesitas sendiri merupakan kondisi yang terjadi akibat konsumsi kalori berlebihan dalam jangka panjang.

Sebagian besar makanan dan minuman tinggi kalori umumnya mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah berlebih.

“Mumpung lagi puasa kita pakai kesempatan ini, karena kalau hari-hari biasa kan sulit,” papar dr. Nadia saat lakukan kampanye edukatif #BatasiGGL bersama Nutrifood.

Pentingnya Membaca Informasi Gizi pada Pangan Olahan

*

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara