Sitaro

Krisis Air Bersih Akibat Kemarau, Heronimus Makainas Instruksikan Satgas Bergerak Tanpa Henti

Krisis Air Bersih Akibat Kemarau, Heronimus Makainas Instruksikan Satgas Bergerak Tanpa Henti
Ilustrasi petugas saat membagikan air bersih

Penulis: Jhonli Kaletuang I Sitaro

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) bergerak cepat menghadapi dampak kemarau panjang yang menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Pulau Siau. Atas arahan Plt Bupati Heronimus Makainas, Satgas Penanggulangan Kemarau langsung mengerahkan armada lintas instansi untuk mendistribusikan air bersih ke kampung-kampung yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sitaro, Frans Lintjewas, mengatakan setiap laporan maupun surat permohonan dari pemerintah kampung segera ditindaklanjuti oleh posko penanggulangan kemarau.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, distribusi air telah dilakukan secara intensif sejak pekan lalu sebagai bentuk respons cepat pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat.

“Begitu permintaan dari pemerintah kampung masuk ke posko, tim langsung bergerak menyalurkan air bersih. Langkah ini sudah kami lakukan sejak pekan lalu dan akan terus berlanjut sesuai kebutuhan,” ujar Frans.

Operasi kemanusiaan tersebut melibatkan BPBD, Satuan Polisi Pamong Praja melalui armada mobil pemadam kebakaran, Dinas Pekerjaan Umum, PDAM, hingga dukungan pemerintah kecamatan dan PD Pelayaran.

Meski mobilitas armada bergantung pada ketersediaan bahan bakar, hal itu tidak mengurangi komitmen pemerintah dalam memastikan masyarakat tetap memperoleh akses air bersih.

Selama beberapa hari terakhir, armada distribusi telah menjangkau berbagai kampung di enam kecamatan.

Di Kecamatan Siau Timur, bantuan air bersih disalurkan ke Kampung Nameng, Bukide, Kanang, dan Dame.

Sementara di Kecamatan Siau Tengah, warga Salili, Beong, hingga Kanawong juga telah menerima pasokan air.

Distribusi juga menyasar wilayah Kecamatan Siau Barat dan Siau Barat Selatan, meliputi Kampung Mini, Hiung, Kinali, Kawahang, Kiawang, Tanaki, hingga Batusenggo yang menjadi daerah terdampak berkurangnya sumber air akibat kemarau berkepanjangan.

Frans menegaskan, pelayanan distribusi sementara diprioritaskan berdasarkan permohonan resmi pemerintah kampung agar penyaluran dapat menjangkau masyarakat secara merata.

“Saat ini kami masih memprioritaskan kebutuhan bersama melalui pemerintah kampung. Permintaan secara pribadi belum dapat kami layani karena fokus kami adalah kepentingan masyarakat secara luas,” tegasnya.

Kemarau panjang yang melanda Sitaro dipengaruhi sejumlah faktor iklim global. Berdasarkan analisis BMKG serta pemantauan lembaga internasional seperti NOAA dan Bureau of Meteorology Australia, kondisi tersebut dipicu kombinasi fenomena El Niño, melemahnya pembentukan awan hujan akibat anomali suhu muka laut, serta menguatnya Monsun Timur yang membawa massa udara kering ke wilayah Sulawesi Utara.

BMKG bahkan telah mengeluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis untuk Sulawesi Utara pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026.

Sebagian wilayah tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari berturut-turut, termasuk Kabupaten Kepulauan Sitaro yang kini masuk kategori kekeringan ekstrem.

Selain mengancam ketersediaan air bersih, kondisi tersebut juga berpotensi memicu gagal panen tanaman hortikultura serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Menyikapi situasi tersebut, Plt Bupati Kepulauan Sitaro, Heronimus Makainas, mengimbau seluruh masyarakat untuk menggunakan air secara bijaksana serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sitaro untuk bersama-sama menghadapi dampak musim kemarau dengan menghemat penggunaan air bersih serta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Kerja sama seluruh masyarakat sangat dibutuhkan agar kita bisa melewati kondisi ini dengan baik,” kata Heronimus Makainas.