Opini

Konflik Amerika–Iran Picu Kekhawatiran Krisis Pangan, Sulut Punya Gerakan Mari Jo Bakobong

Olly Dondokambey mencangkul lahan saat gerakan Mari Jo Bakobong untuk memperkuat ketahanan pangan Sulawesi Utara.
Di tengah kesibukannya, Olly Dondokambey menyempatkan diri berkebun sebagai bagian dari gerakan Mari Jo Bakobong, yang mendorong masyarakat memanfaatkan lahan untuk menanam dan memperkuat ketahanan pangan di Sulawesi Utara.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap berbagai dampak global, termasuk potensi krisis pangan.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor keamanan. Konflik juga berpotensi memicu kenaikan harga energi, gangguan logistik internasional, hingga ketidakstabilan pasokan pangan di berbagai negara.

Dalam situasi seperti ini, konsep ketahanan pangan lokal yang pernah digagas di Sulawesi Utara melalui gerakan Mari Jo Bakobong kembali dinilai relevan.

Gerakan tersebut diperkenalkan pada masa kepemimpinan Olly Dondokambey sebagai upaya mendorong masyarakat memanfaatkan lahan untuk menanam berbagai komoditas pangan.

Program ini mengajak masyarakat, aparatur sipil negara, hingga komunitas desa untuk menanam kebutuhan pangan seperti cabai, sayuran, jagung, dan umbi-umbian di lahan yang tersedia.

Ancaman Krisis Pangan Global

Konflik geopolitik sering kali membawa dampak luas terhadap perekonomian dunia. Ketika konflik bersenjata terjadi, harga energi biasanya ikut meningkat.

Lonjakan harga minyak dunia dapat memicu kenaikan biaya transportasi dan distribusi barang. Dampaknya, harga bahan pangan di pasar juga berpotensi meningkat.

Selain itu, gangguan terhadap jalur perdagangan global dapat menghambat pasokan berbagai komoditas penting.

Kondisi ini membuat banyak negara mulai memperkuat konsep ketahanan pangan nasional maupun lokal agar tidak terlalu bergantung pada pasokan luar negeri.

Pentingnya Ketahanan Pangan Lokal

Indonesia sendiri masih mengimpor beberapa komoditas pangan seperti kedelai dan gandum. Jika konflik global mengganggu perdagangan internasional, pasokan komoditas tersebut bisa terdampak.

Karena itu, produksi pangan lokal menjadi salah satu kunci untuk menjaga stabilitas kebutuhan masyarakat.

Sulawesi Utara memiliki keunggulan karena tanahnya relatif subur dan masyarakatnya memiliki tradisi berkebun yang kuat.

Budaya “bakobong” atau berkebun sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah Minahasa.

Gerakan Mari Jo Bakobong pada dasarnya memperkuat kembali tradisi tersebut dengan pendekatan yang lebih terorganisir.

Menanam dari Rumah

Dengan memanfaatkan pekarangan rumah atau lahan kosong, masyarakat dapat menanam berbagai kebutuhan pangan sederhana seperti cabai, tomat, sayuran hingga umbi-umbian.

Langkah ini dapat membantu keluarga mengurangi ketergantungan pada pasar sekaligus menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga.

Jika dilakukan secara luas, gerakan berkebun di tingkat rumah tangga bahkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah.

Pelajaran dari Masa Krisis

Pengalaman saat pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang relatif bertahan ketika banyak sektor ekonomi lainnya terdampak.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara