Kita tak bisa mundur dari dunia digital—dan memang tidak perlu. Tapi kita juga tak bisa terus maju tanpa arah, membiarkan gadget mengambil alih ruang paling sakral dalam keluarga: kehadiran. Smartphone bukan musuh, tapi tantangan moral. Ia menuntut kita untuk bijak, bukan panik. Karena yang dibutuhkan hari ini bukan pelarangan, tapi keteladanan. Kita tak butuh keluarga yang bebas gawai, tapi keluarga yang tidak meletakkan gawai di atas cinta.
Satu pelukan yang sungguh hadir tetap lebih ampuh daripada seribu emoji. Satu tatapan yang penuh perhatian dapat menenangkan sistem saraf anak lebih dalam daripada animasi paling indah sekalipun. Maka barangkali, pembangunan terbaik yang bisa kita mulai bukan sekadar jalan tol antar kota, melainkan jalan pulang antar hati—dimulai dari rumah. Bukan dengan proyek beton, tapi dengan proyek kelekatan. Bukan dari kecanggihan, tapi dari cinta yang dilatih tiap hari: dalam kehadiran, dalam pelukan, dalam mendengar.
Penulis: Taufiq Fredrik Pasiak
Ilmuwan Otak, Dekan FK UPN Veteran Jakarta
Baca juga:
- Pesona Hiper-Realitas
- Taufiq Pasiak, Putra Sulawesi Utara yang Kini Jabat Pengurus Majelis Nasional KAHMI 2022-2027
- Penting !!! Torang Samua Ciptaan Tuhan, Ini Kata DR Taufik Pasiak
