“Kota ini juga memiliki kekayaan historis dan agama-agama serta budaya yang sangat beragam. Lebih dari itu daerah yang asri ini juga kaya dengan kearifan lokal dari para berbagai paguyuban penghayat kepercayaan,” kata Mike.
Lebih lanjut, Mike mengungkapkan kesannya yaitu para fellow tampak sangat menghargai kehangatan dan keramahan para pemimpin lokal serta dinamisme dan kecerdasan inisiatif antaragama dan antarbudaya di sini.
“Ini adalah lingkungan yang sempurna untuk belajar tentang dialog dan perjumpaan antaragama,” ucap Mike.
Selama pelatihan di Yogyakarta, para fellow mengunjungi beberapa tempat di dalam dan di luar Yogyakarta, termasuk Candi Borobudur yang terkenal sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Vihara Mendut, Pondok Pesantren Pabelan dan Komunitas 5 Gunung di Magelang.
Mereka juga mengunjungi Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Yogyakarta.
Rif’at S. Fachir, Staf Bidang Komunikasi ASEAN Institute for Peace & Reconciliation (AIPR), menyampaikan, ini adalah salah satu pelatihan pertama yang dirinya ikuti secara langsung setelah dua tahun aktivitas online karena pandemi.
“Tentu menyegarkan untuk dapat bertemu dan berinteraksi langsung dengan rekan-rekan,” kata Rif’at.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dialog antaragama dan antarbudaya adalah elemen yang tak terpisahkan dari pembangunan perdamaian.
“Bagi saya, pelajaran penting dari pelatihan ini adalah bagaimana kita belajar untuk mendengarkan, memahami dan menghargai perbedaan agama dan budaya di masyarakat yang beragam ini. Dialog adalah proses yang berkelanjutan,” ungkap Rif’at.
Seorang Fellow dari Thailand yang memperkenalkan dirinya sebagai muslimah yang bekerja di tengah temannya yang hampir semuanya beragama Buddha, Kannaporn Pam Akarapisan, mengatakan, mengikuti program ini, termasuk sesi-sesi dan kunjungan lapangan di dalamnya, benar-benar membuka matanya tentang perbedaan agama dan budaya yang sangat kompleks.
“Terima kasih untuk panitia atas kerja kerasnya,” kata Kannaporn.
Direktur Southeast Asian Studies Center, Payap University Chiangmai ini juga menyebutkan, meski dirinya ingin tinggal di Yogyakarta yang indah ini lebih lama, tetapi dia juga ingin cepat pulang ke Chiangmai.
“Agar bisa melakukan banyak hal seperti orang-orang di sini lakukan bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu Father Asher, seorang Pastor dari Gereja Katholik Anglikan Pakistan, menyatakan, di dunia dengan persaingan ekonomi yang pesat dewasa ini, kadang masyarakat melupakan nilai dialog.
“Dari pelatihan ini saya banyak belajar tentang pentingnya dialog dan membangun kepercayaan antar pihak yang berbeda. Terimakasih atas kerja keras tim dari KAICIID dan CRCS UGM,” ucap Father Asher.
(***/srisurya)
