
Manado, BeritaManado.com – Kenaikan harga beras di pasaran belakangan ini menuai beragam reaksi.
Namun, bagi petani di Sulawesi Utara, lonjakan harga ini adalah kabar gembira yang telah lama dinantikan.
Ir. Julius Jems Tuuk, seorang pengamat pertanian sekaligus Presiden LSM Peduli Petani, Peternak, dan Nelayan Sulawesi Utara, menyambut positif fenomena ini.
Ia menegaskan bahwa ini adalah momentum yang sudah seharusnya terjadi untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Selama puluhan tahun, petani padi di Sulawesi Utara berjuang tanpa hasil yang sebanding dengan jerih payah mereka.
Jems Tuuk mengungkapkan bahwa keuntungan yang diperoleh petani rata-rata hanya berkisar Rp 5 hingga 6 juta, angka yang jauh dari cukup untuk menutupi biaya produksi.
“Kalau dihitung biaya produksi, hasilnya tidak ada, tidak balik modal, apalagi kalau tanaman diserang hama,” terang Tuuk.
“Namun hari ini petani bersyukur dengan kenaikan harga beras di angka Rp 13 ribu sampai Rp 14 ribu per kilogram, artinya ada kenaikan sekitar 150 persen!” jelas Tuuk.
Mengapa Ada yang Mengeluh?
Di tengah kebahagiaan petani, suara sumbang dari sebagian masyarakat yang mengeluhkan kenaikan harga beras menarik perhatian Tuuk.
Mantan anggota DPRD Sulut ini dengan tegas mempertanyakan motif di balik keluhan tersebut.
“Selama ini mereka para petani menanam padi hanya mendapatkan keuntungan sedikit akibat harga beras murah tetapi mereka hanya diam. Giliran harga beras mengalami kenaikan, ada masyarakat marah mengeluh harga beras mahal. Orang yang komplain ini apakah pernah merasakan jadi petani sawah?” tegasnya, menantang para pengkritik untuk memahami realita hidup petani.
Tuuk juga menyoroti minimnya minat generasi muda untuk bertani padi di Sulawesi Utara akibat minimnya keuntungan.
Ia bahkan membandingkan hasil bertani padi dengan nilam, tanaman yang jauh lebih menguntungkan.
“Ada berapa banyak milenial di sawah? Tidak ada. Mungkin lebih baik mereka tanam nilam karena kalau dibandingkan hasil satu hektar padi dan satu hektar nilam, kalau diurus dengan baik berkisar Rp 20 juta setahun untuk tanaman padi, sedangkan nilam kalau dia dirawat dengan baik hasilnya dalam satu tahun paling tidak Rp 100 juta,” paparnya.
Apresiasi untuk Presiden Prabowo dan Gubernur Yulius Selvanus: Pemerintah Berpihak pada Petani!
Dengan adanya kenaikan harga beras ini, Tuuk berharap petani dapat merasakan keuntungan yang layak dan masyarakat kembali bergairah mengolah lahan sawah yang selama ini terabaikan.
Ia juga menampik tudingan bahwa pemerintah tidak bekerja.
“Jadi kalau ada wakil rakyat yang mengecam pemerintah tidak bekerja, tidak bisa, tidak seperti itu. Pemerintah justru sangat berpihak kepada para petani kita,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Jems Tuuk secara khusus menyampaikan rasa terima kasih mewakili para petani kepada Presiden Prabowo dan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus.
“Saya mewakili petani menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo dan Gubernur Sulawesi Utara, Bapak Yulius Selvanus, karena dengan adanya kenaikan harga beras dapat menyejahterakan kami petani karena hampir 30 tahun teman-teman petani sawah menderita,” tutupnya, memberikan pujian atas kebijakan yang dinilai pro-petani ini.
(rds)
