Bagaimana mungkin sebuah “benteng” yang dianggap aman bisa dengan mudah ditembus?
- Temuan Polisi yang Kontradiktif: Tak Ada Tanda Kekerasan
Inilah kejanggalan terbesar yang membuat penyidik memutar otak.
Meskipun metode kematiannya sangat sadis, kepala dilakban rapat hingga diduga kehabisan napas, namun hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan visum awal justru tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.
Pihak kepolisian juga menyatakan tidak ada barang milik korban yang hilang, yang secara efektif mencoret motif perampokan.
Pertanyaan besarnya: bagaimana mungkin seseorang bisa dilakban kepalanya tanpa melakukan perlawanan yang meninggalkan bekas luka, memar, atau tanda kekerasan lainnya?
Apakah korban dilumpuhkan terlebih dahulu?
Misteri ini menjadi kunci utama yang harus dipecahkan oleh tim penyidik.
- Kronologi Penemuan dan Pintu yang Terkunci
Jasad Arya Daru Penguyunan (ADP) ditemukan pertama kali oleh penjaga indekos sekitar pukul 08.30 WIB.
Penemuan ini berawal dari kepanikan sang istri yang tak bisa menghubungi suaminya sejak malam sebelumnya, mendorongnya untuk meminta penjaga mengecek kamar.
Saat didatangi, pintu kamar ditemukan dalam keadaan terkunci, yang biasanya mengindikasikan tidak ada orang lain yang masuk atau keluar.
Penjaga indekos terpaksa membuka paksa pintu tersebut, dan barulah pemandangan mengerikan itu terungkap.
Fakta ini menambah kerumitan kasus: bagaimana pelaku bisa keluar dari kamar yang terkunci dari dalam?
(jenlywenur)
